RADARGARUT– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sebagai salah satu upaya strategis mengatasi stunting dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia kembali menghadapi kendala serius.
Di Jawa Barat, program unggulan ini terpaksa dihentikan sementara sejak Senin, 8 Juni 2026. Penyebab utamanya adalah keterlambatan pencairan dana operasional dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang tak kunjung cair ke rekening Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut laporan di lapangan, puluhan hingga ratusan dapur SPPG di berbagai daerah Jawa Barat seperti Bandung Barat, Majalengka, dan Cirebon terpaksa menghentikan produksi makanan bergizi. Akibatnya, ribuan penerima manfaat terutama siswa sekolah dasar, balita, dan kelompok rentan lainnya tidak lagi mendapatkan jatah makan bergizi harian mereka.
Baca Juga:Kejagung Dalami 26 Nama Diduga Terlibat Korupsi MBGBos Motor Listrik Emmo Ikut Terseret Kasus Korupsi MBG, Jadi Tersangka Baru!
Selain itu beberapa mitra MBG mengeluhkan soal pencairan dana yang terlambat. Hal ini imbas dari kasus korupsi MBG yang terjadi beberapa waktu lalu.
Beberapa pengelola SPPG melaporkan bahwa dana yang seharusnya sudah masuk untuk pembelian bahan baku seperti beras, sayuran segar, protein hewani, dan susu telah habis sejak pekan lalu.
Keterlambatan ini bukanlah kasus pertama. Beberapa waktu lalu, BGN sempat membantah rumor penghentian program dan menyatakan bahwa pencairan dana melalui mekanisme top-up Dana Bantuan Pemerintah (Banper) sedang berproses. Namun, realita di daerah menunjukkan sebaliknya.
Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, dalam respons sebelumnya menyebutkan bahwa dana sedang dicairkan secara bertahap pasca-pergantian kepemimpinan dan penyesuaian regulasi. Meski demikian, banyak pengelola SPPG merasa frustrasi karena operasional dapur memerlukan pembayaran harian yang tidak bisa ditunda.
Dampak sosial dari penghentian sementara ini cukup signifikan. Di Jawa Barat, yang merupakan salah satu provinsi dengan populasi siswa terbesar di Indonesia, program MBG sebelumnya berhasil menjangkau puluhan ribu anak setiap hari.
Makanan bergizi yang disediakan tidak hanya membantu mengurangi angka stunting, tetapi juga meningkatkan konsentrasi belajar siswa dan mendukung pertumbuhan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Kini, tanpa layanan tersebut, beberapa orang tua khawatir anak-anak mereka akan kembali mengalami kekurangan asupan nutrisi, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih pulih pasca-pandemi.
