Di sektor transportasi, operator angkutan umum dan perusahaan logistik kemungkinan besar akan menyesuaikan tarif layanan mereka. Hal ini berpotensi memicu efek domino terhadap harga barang kebutuhan pokok, karena biaya distribusi yang naik.
Ekonom memperkirakan kontribusi terhadap inflasi bisa mencapai 0,1-0,3 persen dalam waktu dekat, meski pemerintah masih mempertahankan subsidi untuk Pertalite dan Solar agar tidak membebani masyarakat bawah.
Pemerintah dan Pertamina menegaskan bahwa penyesuaian harga ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pasokan BBM dan menyesuaikan dengan mekanisme harga pasar global. Pertamina sebagai BUMN tetap berkomitmen menjamin ketersediaan stok BBM di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Baca Juga:Libur Sekolah Semester Genap 2026 Segera Tiba! Ini Jadwal Lengkapnya3 Rekomendasi Wisata Seru di Garut untuk Liburan SD Anak-Anak Bersama Keluarga
Kualitas Pertamax yang memiliki RON 92 tetap terjaga sesuai spesifikasi, sehingga mesin kendaraan tetap optimal dan ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar dengan oktan lebih rendah.
Latar Belakang Geopolitik dan Pasar Global
Lonjakan harga minyak dunia pasca-konflik Israel-Iran menjadi pemicu utama. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, memaksa perusahaan minyak nasional di berbagai negara melakukan penyesuaian.
Di Indonesia, Pertamina yang masih bergantung pada impor sebagian kebutuhan crude oil harus menyeimbangkan antara harga jual dan biaya produksi agar tidak mengalami kerugian besar.
Meski demikian, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar tetap dijaga harganya demi menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah terus memantau perkembangan pasar energi global dan siap melakukan intervensi jika diperlukan, termasuk melalui kebijakan cadangan devisa atau diversifikasi sumber energi.(*)
