GARUT — Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Garut mengalami penurunan signifikan pada tahun 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski alami penurunan kasus, namun empat warga dinyatakan meninggal dunia akibat DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Garut, dr. Asep Surahman mengatakan pada tahun 2024, kasus DBD mulai mengalami peningkatan dan mencapai puncaknya pada Januari 2025 dengan 505 kasus dalam satu bulan.
Baca Juga:Dinas Pertanian Garut Dorong Produktivitas Petani Lewat Program Irigasi Perpompaan dan RJITPemkab Garut Rencanakan Penataan PKL di Depan Kantor Pemda, Kawasan Akan Dijadikan Lokasi Parkir Resmi
“Kalau dibandingkan dengan tahun sekarang berbeda jauh, ada penurunan. Tahun 2026 ini Januari hanya 240 kasus, berarti turun hampir setengahnya dibandingkan Januari tahun lalu,” ujarnya belum lama ini.
Ia menjelaskan, hingga April 2026 jumlah kasus DBD di Garut tercatat sebanyak 644 kasus.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencapai 1.120 kasus.
“Itu total kasus sampai bulan April, karena bulan Mei datanya belum masuk,” ucapnya.
Meski jumlah kasus menurun, menurutnya, angka kematian akibat DBD masih tercatat sama dengan tahun sebelumnya.
Dari Januari hingga April 2025 terdapat empat kasus kematian, dan pada periode yang sama tahun 2026 juga tercatat empat orang dinyatakan meninggal dunia.
Keempat kasus kematian pada tahun ini terjadi di wilayah kerja Puskesmas Tarogong, Puskesmas Cipanas, Puskesmas Pasundan, dan Puskesmas Haurpanggung.
Baca Juga:Pemkab Garut Inventarisasi Potensi 421 Desa Untuk Pengembangan Desa WisataRUPST bank bjb Sepakat Tebar Dividen sebesar Rp 900 miliar
Ia menyebutkan, bahwa kelompok usia yang paling banyak terserang DBD berada di usia 10 hingga 35 tahun, dengan mayoritas penderita yakni perempuan.
“Karena disinyalir nyamuk DBD itu nyamuk rumahan, yang sering tinggal dirumah itu kan perempuan. Dan biasanya nyamuk ini menggigitnya pagi atau siang hari beda dengan nyamuk lainya,” imbuhnya.
Asep menjelaskan, tingginya kasus DBD pada tahun lalu dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya perubahan cuaca akibat fenomena El Nino serta munculnya virus dengue endemis tipe 4.
Selain itu, keberadaan genangan air juga menjadi pemicu berkembangnya nyamuk penyebab DBD.
Dengan begitu, Asep mengimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kebersihan lingkungan.
“Ini diperlukan kesadaran masyarakat karena DBD sering dianggap enteng, padahal setelah terinfeksi bisa mengancam jiwa,” pungkasnya. (Ale)
