Harga Pertalite Tanpa Subsidi Tembus Rp16.000/Liter, Ini Faktanya

(Istimewa)
Pertalite tembus Rp 16.000 tanpa subsidi (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Media sosial kembali ramai dengan isu bahan bakar minyak (BBM) setelah sebuah video struk pembelian Pertalite viral di berbagai platform.

Dalam struk tersebut, tercantum harga Pertalite tanpa subsidi mencapai Rp16.088 per liter. Setelah dipotong subsidi pemerintah sebesar Rp6.088 per liter, konsumen hanya membayar Rp10.000 per liter.

Fenomena ini memicu pertanyaan tajam dari masyarakat: Mengapa produk dengan kualitas lebih rendah justru mendapat subsidi besar, sementara BBM premium seperti Pertamax dijual dengan harga pasar yang lebih rendah?

Baca Juga:Menelusuri Sejarah Garut Lewat Hotel Villa Dolce: Lokasi Pembunuhan Istri Konsulat Spanyol 1925Cara Cek Bansos Lewat HP: Cukup Pakai NIK!

Video yang diunggah warganet bernama Nasar ini menunjukkan struk dari SPBU Pertamina. Ia menyatakan keheranannya karena harga “asli” Pertalite (RON 90) lebih mahal dibandingkan Pertamax (RON 92) yang saat ini dijual sekitar Rp12.300 sampai Rp12.800 per liter.

Pernyataan ini langsung menuai ribuan komentar, dari yang mendukung hingga yang mempertanyakan transparansi kebijakan subsidi energi nasional.

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, memberikan klarifikasi resmi. Menurutnya, kebijakan subsidi BBM telah dirancang pemerintah berdasarkan kajian mendalam.

Subsidi difokuskan pada produk yang paling banyak dikonsumsi masyarakat luas, terutama kalangan menengah ke bawah dan sektor transportasi darat yang mendominasi mobilitas sehari-hari. Oleh karena itu, Pertalite ditetapkan sebagai BBM Jenis Khusus Penugasan (JBKP), sementara Pertamax termasuk BBM umum yang harganya mengikuti mekanisme pasar tanpa intervensi subsidi.

Latar Belakang dan Mekanisme Subsidi

Subsidi BBM merupakan instrumen fiskal penting pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi. Pertalite, sebagai bahan bakar yang paling terjangkau, digunakan oleh jutaan kendaraan roda dua dan roda empat di seluruh Indonesia.

Tanpa subsidi, kenaikan harga secara tiba-tiba berpotensi memicu gejolak ekonomi, mulai dari kenaikan biaya transportasi hingga inflasi barang kebutuhan pokok.

Namun, penampakan harga non-subsidi Rp16.088 per liter memunculkan kritik. Beberapa pihak mempertanyakan logika ekonomi di baliknya. Mengapa biaya produksi atau harga keekonomian Pertalite atau bahan bakar dengan RON lebih rendah bisa lebih tinggi daripada Pertamax?

Baca Juga:WHO Prediksi Hantavirus di Kapal Pesiar Tak Jadi EpidemiPolisi Berhasil Ringkus Penipu Calo Kerja: Korban Rugi Jutaan Rupiah

Pertamina menjelaskan bahwa harga non-subsidi mencerminkan harga pasar internasional, biaya produksi kilang, distribusi, dan margin, bukan sekadar kualitas oktan semata. Fluktuasi harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta biaya logistik antarwilayah turut memengaruhi angka tersebut.

0 Komentar