RADARGARUT– Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menenangkan kekhawatiran global terkait kasus hantavirus yang muncul di kapal pesiar MV Hondius.
Meski sudah ada beberapa kasus terkonfirmasi dan korban jiwa, WHO memperkirakan wabah ini tidak akan berkembang menjadi epidemi besar seperti COVID-19. Kejadian ini menjadi pengingat penting tentang risiko zoonosis di tengah mobilitas manusia yang tinggi.
Menurut Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Abdirahman Mahamud, kejadian ini berlangsung di lingkungan tertutup dan terbatas di kapal. Penumpang dan awak kapal memang berinteraksi dalam kontak dekat dan berkepanjangan, namun hal tersebut berbeda dengan penyebaran virus pernapasan yang mudah menular di masyarakat luas.
Baca Juga:PKL Masih Bandel Langgar Jam Operasional Di Jalan MerdekaPolemik Cukur Paksa Dinyatakan Selesai! Orang Tua, Siswa hingga Guru Saling Memaafkan
“Kami percaya wabah ini tak akan menyebabkan rantai penularan lanjutan,” tegas Mahamud saat berbicara pada 7 Mei 2026.
Hingga saat ini, lima kasus hantavirus Andes telah dikonfirmasi. Strain ini termasuk langka karena dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat berkepanjangan, berbeda dengan hantavirus umum yang utamanya ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus, melalui urine, kotoran, atau air liur mereka.
Kasus-kasus ini terdeteksi di MV Hondius, kapal berbendera Belanda yang membawa 147 orang, dengan detail 88 penumpang dan 59 awak. Diagnosis dikonfirmasi melalui pengujian di Afrika Selatan dan Swiss. Beberapa laporan menyebutkan adanya korban jiwa dan pasien kritis, meski detail pastinya masih terus dipantau.
Dua kasus awal diketahui sempat melakukan perjalanan melalui Argentina, Chile, dan Uruguay sebelum naik kapal. Mereka mengunjungi lokasi pengamatan burung yang diduga dihuni tikus pembawa virus Andes.
Kapal saat ini sedang menuju Kepulauan Canary setelah mendapatkan izin dari Spanyol, dengan risiko penyebaran di sana dinilai rendah oleh WHO.
Direktur WHO untuk Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi, Maria Van Kerkhove, menegaskan perbedaan mendasar dengan pandemi COVID-19.
“Ini bukan SARS-CoV-2. Penyebarannya tidak sama seperti virus corona,” ujarnya.
Pasien yang terinfeksi harus diisolasi, sementara kontak erat dipantau aktif hingga 42 hari. Beberapa negara mungkin menerapkan karantina ketat, sementara yang lain mengandalkan pemantauan harian.
Baca Juga:BMKG Himbau Potensi Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Periode 5-11 Mei 2026Libur 4 Hari Berturut-turut! Ini Daftar Tanggal Merah Pertengahan Mei 2026
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan pihaknya telah memberitahu 12 negara yang warganya terlibat dalam pelayaran tersebut, termasuk Kanada, Denmark, Jerman, Belanda, Selandia Baru, Singapura, Swiss, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat. Langkah cepat ini mencerminkan kesiapsiagaan global pasca-pengalaman pandemi sebelumnya.
