RADARGARUT– Tepat 96 tahun lalu, pada 11 Mei 1930, Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya.
Dokter Mas Slamet Atmosoediro, lulusan STOVIA angkatan 1916, meninggal dunia di Garut akibat terjangkit penyakit Pes (Plague) yang sedang melanda wilayah Hindia Belanda kala itu. Namun, kematiannya bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan awal dari sebuah legacy yang abadi.
Dr. Slamet lahir di Lampegan, Cianjur. Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran di Sekolah Dokter Jawa (STOVIA), ia langsung ditugaskan ke berbagai daerah untuk melayani masyarakat. Pada tahun 1925, dokter muda ini tiba di Garut dan bertugas di rumah sakit setempat.
Baca Juga:BMKG Himbau Potensi Hujan Lebat Jelang Musim KemarauBank Indonesia Ungkap Alasan Rupiah Kian Anjlok
Saat itu, wabah Pes sedang menyebar luas di berbagai wilayah Hindia Belanda. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis ini ditularkan melalui kutu tikus, menyebabkan kematian massal dengan cepat dan menyakitkan. Masyarakat ketakutan, sementara fasilitas kesehatan dan tenaga medis sangat terbatas.
Dengan penuh dedikasi, Dr. Slamet tidak gentar. Ia berada di garis depan, merawat pasien, melakukan pencegahan penyebaran, dan berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa penduduk Garut. Ia berjuang tanpa mengenal lelah, bahkan ketika risiko tertular semakin tinggi.
Hingga akhirnya, ia sendiri menjadi korban. Pada usia yang masih relatif muda, dokter yang penuh semangat ini menghembuskan napas terakhirnya setelah terjangkit PES.
Kisah kepahlawanan Dr. Slamet Atmosoediro tidak berhenti di kematiannya. Masyarakat dan pemerintah daerah Garut kemudian menghormatinya dengan mengabadikan namanya sebagai nama rumah sakit.
RSUD Garut yang kini menjadi rumah sakit rujukan utama di wilayah tersebut dulunya dikenal sebagai Rumah Sakit Dr. Slamet. Nama besarnya menjadi simbol perjuangan tenaga kesehatan di masa kolonial, ketika pengobatan modern masih sangat terbatas dan dokter Indonesia harus berhadapan dengan wabah mematikan di tengah keterbatasan sumber daya.
Peristiwa ini mengingatkan kita pada peran vital para dokter dan tenaga kesehatan di masa lalu. Di era di mana teknologi medis belum secanggih sekarang, dokter seperti Dr. Slamet harus menghadapi wabah dengan ilmu pengetahuan yang terbatas, keberanian luar biasa, dan pengorbanan jiwa raga.
