Dishub Garut Minta Warga Lebih Sabar di Perlintasan Kereta, Jangan Ulangi Tragedi Bekasi Timur

(Istimewa)
Tercatat total korban meninggal dunia dalam tragedi KRL Bekasi Timur mencapai 14 orang usai 12 jam evakuasi (Istimewa)
0 Komentar

GARUT – Kecelakaan Kereta Api sering terjadi dibeberapa Kabupaten/Kota di Indonesia, banyak diantaranya akibat dari ketidaksabaran para pengendara, yang memaksa menerobos palang pintu lintasan saat kereta lewat.

Peristiwa sebelumnya, ialah kecelakaan di Bekasi Timur yang mengakibatkan banyak korban baik yang meninggal maupun luka-luka, akibat dari mobil yang terlihat berhenti ditengah lintasan rel kereta api.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Garut Satriabudi, mengatakan bahwa untuk perlintasan rel di Garut sudah diupayakan penjagaan oleh petugas Dishub.

Baca Juga:Tanggap Darurat Bencana Garut Diperpanjang, Alokasi BTT Tetap Rp7,5 MiliarTramadol Jadi Ancaman Generasi Muda

“Yang pertama mungkin alhamdulillah untuk dishub, untuk perlintasan sebidang ya, khusus sebidang, kita telah berupaya dilakukan penjagaan oleh petugas disub,” ujarnya.

Sehingga, ia memohon kepada masyarakat ataupun pengendara agar mematuhi rambu yang ada, dan bersabar ketika melintas rek kereta api.

“Yang kedua dimohon kepada masyarakat ketika ada kereta api yang akan lewat, ada bunyi-bunyian, atau khususnya yang di jalan provinsi, itu lebih hati-hati, jangan memaksakan, jangan sampai menerobos palang pintu itu saja,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, untuk perlintasan kereta api di Garut keseluruhan ada 12 palang pintu, dan 3 masih manual.

“Yang tidak ada palang pintu itu di sebidang saja, itu kita ada 12 palang pintu, yang tiga sudah dilaksanakan oleh Pemkab Garut oleh APBD, yang tiga masih manual,” sebutnya.

Satriabudi menegaskan, untuk perlintasan kereta api di Garut yang tidak ada palang pintu hanya yang manual yang sebidang, dan sisanya kewenangan PT Kereta Api Indonesia.

“Yang manual, tapi yang sebidang, kalau di luar itu mungkin kewenangan PT KAI,” pungkasnya. (Rizka)

0 Komentar