Angka Kelahiran Jawa Barat Merosot: Didominasi Populasi Menua

(Unsplash/radargarut.id)
Jabar didominasi populasi menua (Unsplash/radargarut.id)
0 Komentar

RADARGARUT– Jawa Barat secara resmi memasuki fase aging population atau populasi menua. Penurunan drastis angka kelahiran menjadi pemicu utama pergeseran demografi besar-besaran di provinsi terpadat di Indonesia ini.

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, jumlah penduduk Jabar mencapai 50,94 juta jiwa. Angka ini tumbuh 1,12 persen sejak 2020.

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, komposisi usia penduduk mengalami perubahan signifikan. Persentase penduduk lanjut usia kini telah mencapai 11,51 persen.

Baca Juga:DPRD Garut Bantah Isu Kelangkaan Gas Elpiji 3KGHarga Emas 5 Mei 2026: Stabil di Angka Rp 2.7 Juta

Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menjelaskan bahwa Total Fertility Rate (TFR) Jabar saat ini berada di angka 2,05. Angka ini sudah berada di bawah tingkat penggantian generasi (replacement level) sebesar 2,1.

Artinya, rata-rata setiap perempuan usia produktif (15-49 tahun) melahirkan kurang dari dua anak sepanjang hidupnya. Penurunan paling tajam terjadi pada kelompok usia 15-19 dan 20-24 tahun.

Disparitas antarwilayah juga terlihat jelas. Kota Bandung mencatat TFR terendah sebesar 1,82, sementara Kabupaten Garut masih relatif tinggi di angka 2,32. Perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, pendidikan, serta akses layanan kesehatan reproduksi di masing-masing daerah.

Meski dihadapkan pada ancaman populasi menua, ada kemajuan positif di sektor kesehatan. Angka Kematian Bayi (IMR) berhasil ditekan hingga 12,84 per 1.000 kelahiran hidup, turun lebih dari separuh dibandingkan data Sensus Penduduk 2010.

Struktur penduduk Jabar saat ini masih didominasi kelompok usia produktif (15-64 tahun) sebesar 69,75%, dengan Gen Z 25,22% dan Milenial 24,76% sebagai pilar utama.

Namun, Kabupaten Ciamis menjadi contoh paling mencolok dengan persentase lansia mencapai 17,77 persen. Ari Anggorowati menekankan perlunya kewaspadaan dini bagi pemerintah daerah.

Penurunan angka kematian yang diikuti peningkatan lansia berpotensi menimbulkan beban sosial dan ekonomi jika tidak disiapkan dengan matang, mulai dari layanan kesehatan lansia, jaminan sosial, hingga penyesuaian pasar tenaga kerja.

Baca Juga:Persib Siap Tanding Lawan Persija: Hondak Harap Pertandingan Digelar Di GBKPersib Siap Tanding Lawan Persija: Hondak Harap Pertandingan Digelar Di GBK

Di sisi lain, BPS mencatat kemajuan di bidang kesetaraan gender. Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Jabar tahun 2025 turun menjadi 0,434 atau lebih baik 0,024 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Kota Tasikmalaya menjadi yang paling signifikan perbaikannya, sementara Kabupaten Sumedang justru mengalami peningkatan ketimpangan.

0 Komentar