Mengintip Wajah TPA Pasir Bajing Garut: Dari Sejarah Panjang Hingga Upaya Revolusi Pengolahan Sampah

(Istimewa)
TPA Pasir Bajing (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Bagi warga Kabupaten Garut, nama Pasir Bajing mungkin sudah tidak asing lagi. Terletak di Kecamatan Banyuresmi, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pasir Bajing merupakan “jantung” bagi manajemen limbah di wilayah berjuluk Swiss van Java ini.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya volume konsumsi masyarakat, TPA ini kini berdiri di persimpangan jalan antara menjadi beban lingkungan atau pusat solusi pengelolaan sampah masa depan.

​Sejarah dan Evolusi Pasir Bajing

​TPA Pasir Bajing mulai beroperasi secara intensif sejak beberapa dekade lalu sebagai lokasi pembuangan terpusat untuk sampah domestik dari berbagai kecamatan di Garut, terutama wilayah perkotaan.

Baca Juga:EA Sports Rilis Kode Redeem FC Mobile Terbaru Edisi April 2026: Dapatkan Pemain Bintang dan Pack Gratis!Sejarah Hari Buku Sedunia 23 April

Pada awalnya, lahan ini merupakan area perbukitan yang dialokasikan pemerintah daerah untuk menampung residu sampah masyarakat.

​Namun, sejarah Pasir Bajing tidak selalu mulus. Seiring berjalannya waktu, kapasitas lahan mulai mendekati batas maksimal atau overload.

Hal ini sempat memicu berbagai tantangan, mulai dari protes warga sekitar terkait aroma tidak sedap hingga masalah longsoran sampah saat musim hujan ekstrem.

Kendati demikian, TPA ini terus bertahan dan mengalami berbagai perbaikan manajemen oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut untuk memenuhi standar sanitasi yang lebih baik.

​Bagaimana Sampah Diolah di Pasir Bajing?

Banyak yang mengira bahwa TPA hanya sekadar tempat menumpuk sampah. Di Pasir Bajing, terdapat upaya transisi dari sistem pembuangan terbuka menuju sistem yang lebih terorganisir. Berikut adalah tahapan umum pengolahan sampah di sana:

Penyortiran Awal: Sampah yang masuk dari truk pengangkut idealnya melewati tahap pemilahan. Meski sebagian besar masih tercampur, para pemulung di area ini berperan besar secara informal dalam memisahkan plastik, logam, dan kertas yang memiliki nilai ekonomi.

Sistem Sanitary Landfill (Tahap Transisi): Pemerintah terus berupaya menerapkan metode sanitary landfill, di mana sampah diratakan, dipadatkan, dan kemudian ditutup dengan lapisan tanah secara berlapis untuk mengurangi bau serta mencegah lalat berkembang biak.

Baca Juga:Gebyar Pesona Budaya Garut 2026 Usung Misi "Waste Less" di Jantung KotaUsung Tema 'Our Power, Our Planet': Ini Makna Hari Bumi 2026

Pengolahan Air Lindi: Salah satu bagian krusial adalah pengelolaan air lindi (cairan sampah). Cairan ini harus dialirkan ke kolam penampungan khusus agar tidak mencemari sumber air tanah milik warga sekitar.

0 Komentar