Seri Motivasi Seuri 175, ULIL – AMRI (K)

istimewa
Dr. Heri M. Tohari, Dosen Institut Agama Islam Persatuan Islam Garut
0 Komentar

Oleh: Dr. Heri M. Tohari – Dosen Institut Agama Islam Persatuan Islam Garut

DUNIA memang alam keramaian. Setidaknya sudah menjadi fitrah umat manusia menolak kesepian. Tak ayal memunculkan puisi nan romatis dari sebuah bait cinta, Ada Apa Dengan Cinta (AADC), yang berbunyi, “Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh”.

Romantis itu adalah gaduh. Kalau sepi apalagi diam, hanyalah sebuah cinta yang tidak teruji. Tengok saja kisah sarkas romantis yang sering hilir-mudik di beranda jendela medsos.

Bayangkan aku dan kamu, yang telah menjadi kita. Kemudian, masak di dapur sembari lempar-lemparan tabung gas tiga kilogram. Masya Allah, so sweet sekali. Sambil dibarengi bernyanyi dengan suara agak parau yang serak-serak rungkad, “kita bikin romantis”. Awok-awok dan prikitiw pokoknya mah.

Baca Juga:KARTINI DI KERTAS GAMBAR ANAK – Imajinasi, Emosi, dan Ruang yang Sering TerlupaAplikasi 'Imah Aing' Disiapkan, Programnya Baru Efektif 2027

Tersebutlah pasangan paling romantis sekalipun, Rangga dan Cinta. Romeo dan Juliet. Rama dan Sinta. Layla dan Majnun. Dilan dan Milea. Galih dan Ratna. Atau versi pemimpin negara kita, Habibie dan Ainun. Atau legenda Tiongkok, Sampek dan Engkay. Hingga kepada percintaan gaya lokal level kampung, Mang Udin dan Bi Eha. Pasangan-pasangan ini hadir penuh dinamika yang mengharu biru. Tanpa cerita yang datar. Dan tanpa cerita yang sepi.

Cinta yang teruji, adalah konten cerita penuh perjuangan. Cerita yang penuh dinamika. Penuh plot naik-turun. Keduanya harus sama-sama ngotot. Kalau perlu harus pakai otot. Bukankah cinta itu harus diperjuangkan? Makanya, sebagai bentuk perjuangan, semua menjadi tidak mau ngéléhan.

Tidak ada istilah cinta yang ngéléhan. Kalau demikian akan menjadi cinta yang éléhan. Sebuah profil cinta yang tidak romantis. Berbanding terbalik dengan ungkapan atau kata-kata orang tua dahulu bahwasanya pasangan hidup itu “ulah saruana, kudu ngéléhan”.

Namun, istilah itu sudah tidak relevan lagi untuk jaman sekarang. Ulah saruana, kudu ngéléhan? Cinta ngéléhan? Oh tidak bisa. Sebab, khodam perempuan itu adalah kobra. Siapa saja yang mau mengganggu maka cukup saja dipacok. Lantas itu mati. Yang memusingkan mah harus diserang dan dipacok. Jéngker. Jéngker deh.

0 Komentar