Oleh: M. Surya Gumilang, S.Pd., M.Hum. – Dosen STIT QURROTA A’YUN
APA yang sebenarnya sedang terjadi ketika seorang anak menggambar? Apakah sekadar aktivitas mengisi waktu, atau justru cara paling jujur bagi anak untuk “bercerita” tentang hidupnya?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika kita memaknainya dalam momentum Hari Kartini bukan sekadar sebagai perayaan, tetapi sebagai ajakan untuk melihat kembali bagaimana kebebasan berpikir benar-benar dihidupkan sejak usia dini.
Sebagai dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), saya semakin yakin bahwa gambar anak bukanlah karya biasa. Ia adalah jejak emosi, rekaman pengalaman, sekaligus cermin kondisi keluarga.
Baca Juga:Aplikasi 'Imah Aing' Disiapkan, Programnya Baru Efektif 2027Pemerintah Tetapkan Jadwal Haji 2026, Keberangkatan Dimulai 22 April
Anak yang tumbuh dalam keluarga hangat, stabil, dan penuh komunikasi, biasanya menghadirkan gambar yang lebih ekspresif, berani, dan kaya cerita. Sebaliknya, anak yang hidup dalam tekanan termasuk konflik orang tua atau perceraian sering kali “berbicara” lewat simbol-simbol visual yang lebih dalam: warna gelap, objek terpisah, atau figur yang menjauh satu sama lain.
Di sinilah seni menjadi ruang pelarian sekaligus penyembuhan. Anak yang belum mampu merangkai kata, justru sangat fasih mengekspresikan luka melalui gambar. Namun persoalannya, bagaimana jika ruang itu sendiri tidak benar-benar bebas?
Kita perlu jujur melihat praktik pendidikan kita. Di banyak kelas, menggambar masih diarahkan: harus sesuai contoh, harus rapi, harus “bagus”. Bahkan dalam lomba-lomba, kreativitas sering diseragamkan oleh tema yang sempit dan standar penilaian yang kaku. Anak-anak akhirnya belajar satu hal: bukan bagaimana mengekspresikan diri, tetapi bagaimana menyenangkan juri.
Bayangkan, seorang anak yang sedang menahan emosi karena kondisi keluarga lalu ia ingin menggambar apa yang ia rasakan. Tetapi di sekolah, ia diminta menggambar “keluarga bahagia” dengan ayah, ibu, dan anak tersenyum rapi.
Apa yang terjadi? Bukan hanya imajinasinya yang terbatasi, tetapi juga emosinya yang terpaksa disembunyikan. Lucunya, kita sering bangga ketika anak juara lomba gambar, tetapi lupa bertanya: itu gambar siapa? Anak kita, atau selera orang dewasa?
