Seri Motivasi Seuri 175, ULIL – AMRI (K)

istimewa
Dr. Heri M. Tohari, Dosen Institut Agama Islam Persatuan Islam Garut
0 Komentar

Belum lagi, khodam laki-laki adalah maung. Siapa yang berani menoel, maka akan dileugleug. Begitu perkataan sok bijak berkata. Laki-laki dan perempuan senangnya bertengkar. Konon katanya bertengkar itu adalah romantis. Semua pengen menang, tidak ada yang mau mengalah.

Tak terkecuali Mamarika dan Paparika. Dua negara ini memang hobinya bertengkar dan berperang. Konon katanya inilah gaya romantismenya.

Mereka mengkampanyekan rasa sayang dan cintanya melalui jualan nilai-nilai demokrasi. Tapi faktanya Dimana-mana bebeledugan bom dan rudal. Nyawa manusia menjadi tidak ada harganya. Semua atas nama demokrasi.

Baca Juga:KARTINI DI KERTAS GAMBAR ANAK – Imajinasi, Emosi, dan Ruang yang Sering TerlupaAplikasi 'Imah Aing' Disiapkan, Programnya Baru Efektif 2027

Ya, cinta mereka sungguh romantis dan so sweet. Cahaya-cahaya yang dihasilkan oleh berbagai rudal dan nuklir di langit laksana parade kembang api yang cukup romantis untuk mengungkapkan sebuah cinta. Bukti bahwa perang ini benar-benar romantis adalah diiyakan oleh semua negara di dunia yang diam membisu menikmati pesta pora perang.

Seandainya semua negara tidak mau perang, maka dunia sangat sepi. Pada hakekatnya negara-negara di dunia sedang melaksanakan mantra kebajikan Rangga dalam AADC. Ku lari ke hutan, kemudian mencari minyak. Ku lari ke pantai, kemudian minyak teriakku. Sepi… sepi… dan sendiri. Aku benci. Makanya perang adalah obatnya.

Semua bangsa tunduk pada Mamarika. Semua nurut, sekalipun disuruh celaka dan salah. Laksana suami takut istri, maka Mamarika adalah sang istri perkasa tersebut.

Sang istri yang telah didaulat menjadi ulil amri atau pemimpin umat manusia sedunia. Namun, walaupun dunia seindah ini, kamu malah galau? Payah lemah. Mari perang kembali. Sebab perang itu adalah romantis. (*)

0 Komentar