RADARGARUT– Di era kolonial Belanda, ketika pendidikan perempuan masih dianggap tabu, seorang perempuan dari tanah Garut bangkit dan menjadi pionir perubahan.
Namanya Raden Ayu Lasminingrat juga dikenal sebagai RA Lasminingrat atau Lasmi Ningrat. Lahir pada 29 Maret 1854 di Garut, Jawa Barat, ia bukan hanya istri bupati, tapi juga intelektual, penulis, dan pejuang hak pendidikan perempuan yang perjuangannya dimulai puluhan tahun sebelum RA Kartini.
Banyak orang mengenal RA Kartini sebagai ikon emansipasi wanita Indonesia. Namun, di tanah Pasundan, ada sosok yang lebih dulu bergerak, yaitu Raden Ayu Lasminingrat. Ia dianggap sebagai perempuan intelektual pertama di Indonesia yang mampu berbahasa dan menulis aksara Belanda dengan fasih.
Baca Juga:Jelang Hari Kartini: Makna Historis Dari Tanggal 21 AprilTimnas U17 Indonesia Tersingkir di Piala AFF, Strategi Bertahan Gagal Total!
Perjuangannya fokus pada literasi dan pendidikan kaum perempuan Sunda, sehingga mereka tidak lagi tertinggal di belakang laki-laki.
Latar Belakang dan Masa Kecil yang Penuh Cerdas
Raden Ayu Lasminingrat lahir dari keluarga bangsawan Sunda. Ayahnya, Raden Haji Muhamad Musa, adalah seorang penghulu sekaligus sastrawan terkenal di Limbangan, Garut. Ibunya, Raden Ayu Ria, berasal dari kalangan elit tradisional Priangan Timur. Sejak kecil, Lasminingrat sudah menunjukkan kecerdasan luar biasa.
Meski pada masa itu sekolah formal untuk perempuan hampir tidak ada, ia mendapat pendidikan informal dari seorang kontrolir Belanda bernama Levyssohn Norman.
Kemampuannya belajar bahasa Belanda membuatnya menjadi perempuan pribumi pertama yang mahir dalam bahasa dan tulisan kolonial. Kecerdasan ini menjadi modal utamanya untuk memperjuangkan kaumnya.
Dari Dunia Menulis ke Perjuangan Pendidikan
Perjuangan Lasminingrat dimulai dari dunia sastra. Sejak usia muda, ia aktif menerjemahkan dan menyadur buku-buku Eropa ke dalam bahasa Sunda agar mudah dibaca masyarakat pribumi, khususnya perempuan.
Salah satu karya terkenalnya adalah Carita Erman (terjemahan dari karya Christoph von Schmid) yang diterbitkan pada 1875 oleh percetakan pemerintah Landsdrukkerji.
Ia juga menyadur cerita-cerita Brothers Grimm menjadi Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng. Karya-karyanya ini tidak hanya menjadi buku bacaan di sekolah-sekolah Garut, tapi juga tersebar ke luar Jawa Barat, bahkan diterjemahkan ke bahasa Melayu.
