Pada usia 32 tahun, saat sudah menikah dengan Raden Adipati Aria Wiratanudatar VII (Bupati Garut), Lasminingrat memilih menghentikan sementara aktivitas menulis.
Ia mengalihkan seluruh energinya ke bidang pendidikan perempuan. Ia melihat bahwa tanpa pendidikan, perempuan Sunda akan terus terjebak dalam ketidaksetaraan.
Mendirikan Sakola Kautamaan Istri: Tonggak Sejarah Emansipasi
Puncak perjuangan Raden Ayu Lasminingrat adalah mendirikan Sakola Kautamaan Istri pada tahun 1907. Sekolah ini awalnya dibuka di ruang gamelan Pendopo Kabupaten Garut, dengan lingkungan terbuka yang ramah bagi perempuan. Kurikulum sekolah mencakup:
Baca Juga:Jelang Hari Kartini: Makna Historis Dari Tanggal 21 AprilTimnas U17 Indonesia Tersingkir di Piala AFF, Strategi Bertahan Gagal Total!
- Membaca dan menulis
- Pengetahuan umum
- Keterampilan rumah tangga (memasak, menjahit)
- Pendidikan moral dan keutamaan istri
Pada 1911, sekolah pindah ke Jalan Ranggalawe dan berkembang pesat. Jumlah murid mencapai sekitar 200 orang dengan lima kelas baru.
Sekolah ini resmi diakui pemerintah Hindia Belanda pada 1913 melalui akta nomor 12. Pada 1934, cabang sekolah dibuka di Wetan Garut, Bayongbong, dan Cikajang.
Selain itu, pada 1912 ia mendirikan Sakola Istri lagi, yang kini bangunannya digunakan oleh SMA Negeri 1 Garut di sebelah timur alun-alun. Bekas sekolahnya di Jalan Ranggalawe juga masih berdiri sebagai bangunan cagar budaya dan sebagian menjadi SDN Regol.
Lasminingrat juga mendukung perjuangan Raden Dewi Sartika di Bandung, sehingga gerakan pendidikan perempuan di Jawa Barat semakin kuat.
Mengapa Lasminingrat Layak Disebut Pahlawan?
Perjuangan RA Lasminingrat sangat luar biasa karena dirinya aktif sejak tahun 1870-an, sementara RA Kartini lahir tahun 1879, Dewi Sartika tahun 1884, dan Rahmah el-Yunusiyah tahun 1900.
Ia membuktikan bahwa perempuan Sunda bisa mandiri, berpendidikan, dan berkontribusi bagi masyarakat. Karyanya masih menjadi bacaan anak-anak di sekolah dasar Jawa Barat hingga kini.
Jejak fisiknya masih ada. Makamnya berada di belakang Masjid Agung Garut, berdampingan dengan makam suaminya.
Baca Juga:Keracunan Massal di Posyandu Cianjur: 63 Ibu dan Balita Sakit Setelah Makan Bergizi GratisCurug Orok Garut: Pesona Air Terjun Megah Berbalut Legenda yang Wajib Dikunjungi di Jawa Barat
Meski demikian, namanya belum diresmikan sebagai Pahlawan Nasional. Pemerintah Kabupaten Garut dan masyarakat Jawa Barat sudah beberapa kali mengusulkannya, tapi prosesnya masih berjalan.
Banyak sejarawan berpendapat bahwa Lasminingrat pantas mendapat gelar tersebut sebagai pelopor emansipasi perempuan Sunda.
Warisan yang Masih Hidup hingga Kini
Hingga hari ini, semangat Raden Ayu Lasminingrat terus menginspirasi. Bangunan sekolahnya yang menjadi cagar budaya menjadi saksi bisu perjuangan emansipasi di Garut, kota yang dijuluki “Swiss van Java”.
