Padahal, jika ruang seni benar-benar dibebaskan, ia bisa menjadi alat deteksi dini yang luar biasa. Guru bisa membaca kondisi anak tanpa harus menanyai secara langsung. Orang tua bisa memahami apa yang tidak terucapkan. Bahkan dalam konteks pendidikan Islam, ini sejalan dengan upaya menjaga fitrah anak, membiarkan potensi dan ekspresi mereka tumbuh secara alami, tanpa tekanan yang berlebihan.
Dalam hal ini, pemahaman anak tentang peran perempuan juga sangat memengaruhi karya mereka. Anak yang melihat ibunya sebagai sosok kuat meskipun “hanya” ibu rumah tangga, akan menggambarkan perempuan dengan lebih utuh: aktif, berperan, bahkan dominan dalam ruang keluarga. Sebaliknya, jika anak tumbuh dengan narasi bahwa perempuan itu terbatas, maka gambarnya pun akan ikut menyempit.
Padahal, kita perlu meluruskan cara pandang ini. Menjadi ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan sederhana. Ia adalah pusat manajemen keluarga, pendidik pertama, penjaga emosi rumah, sekaligus fondasi masa depan anak. Dalam banyak kasus, keberhasilan anak justru lahir dari rumah yang kuat, bukan dari sekolah yang mahal.
Baca Juga:Aplikasi 'Imah Aing' Disiapkan, Programnya Baru Efektif 2027Pemerintah Tetapkan Jadwal Haji 2026, Keberangkatan Dimulai 22 April
Nah, di sini bagian yang agak sensitif sekaligus lucu. Tidak sedikit orang tua hari ini berlomba memasukkan anak ke sekolah “favorit” dengan biaya fantastis. Seolah-olah semakin mahal sekolahnya, semakin terjamin masa depan anaknya. Padahal, bisa jadi yang mahal itu bukan hanya biayanya, tetapi juga “ketenangan hati” orang tua yang merasa tanggung jawabnya sudah dialihkan.
Kalau boleh jujur sedikit: jangan-jangan sekolah mahal itu kadang jadi tempat “penitipan harapan” yang tidak sempat ditanam di rumah?
Tentu ini bukan berarti sekolah tidak penting. Sekolah tetap punya peran besar dalam sosialisasi dan pengembangan anak. Namun, fondasi utama tetap ada di keluarga. Anak yang tumbuh dengan sentuhan emosional yang kuat dari orang tua terutama ibu, akan memiliki kesiapan sosial dan mental yang jauh lebih baik, bahkan tanpa fasilitas yang mewah.
Kembali ke seni rupa anak, kita perlu mulai mengubah cara pandang. Gambar anak bukan untuk dinilai bagus atau jelek, tetapi untuk dipahami. Lomba bukan untuk menyeragamkan, tetapi seharusnya memberi ruang keberagaman. Guru bukan pengarah tunggal, tetapi pendamping ekspresi.
