Penulis: Rachminawati – Dosen di Departemen Hukum Internasional, Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran – Founder Garut Zero Waste
TANGGAL 22 April selalu hadir sebagai pengingat bahwa kita hidup di bumi yang sama, dengan masalah yang juga sama. Sampah plastik, perubahan iklim, dan krisis lingkungan terus menjadi topik utama setiap peringatan Hari Bumi.
Namun tahun ini, ada satu hal yang terasa berbeda dan lebih nyata. Bukan sekadar kampanye atau ajakan moral, melainkan perubahan yang signifikan pada masyarakat karena harga plastik yang tiba-tiba melonjak.
Di berbagai daerah di Indonesia, harga plastik naik drastis, bahkan mencapai 40 hingga 100 persen. Plastik kresek, kemasan es teh, yang dulu dianggap sepele kini menjadi beban tambahan, terutama bagi pedagang kecil dan pelaku UMKM. Bagi mereka, plastik bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan operasional.
Baca Juga:23 Warga Meninggal di Jalanan Sejak Awal Tahun Akibat Kecelakaan, Kejaksaan Baru Terima Dua BerkasMayat Perempuan Ditemukan Mengapung di Perairan Santolo, Polisi Lakukan Penyelidikan
Yang menarik, kenaikan ini bukan karena kebijakan tegas pemerintah untuk menyelamatkan lingkungan, melainkan efek domino dari krisis global. Konflik geopolitik di Timur Tengah mengganggu distribusi minyak dunia termasuk bahan baku utama plastik.
Indonesia yang masih bergantung pada impor bahan baku pun ikut terseret. Ditambah pelemahan nilai tukar rupiah, harga plastik pun terdorong naik. Artinya, plastik menjadi mahal bukan karena kita siap berubah, tetapi karena kita dipaksa oleh keadaan.
Di lapangan, respons masyarakat menunjukkan satu hal: kita belum sepenuhnya siap. Banyak pedagang memilih bertahan tanpa menaikkan harga jual demi menjaga pelanggan, meski harus mengorbankan keuntungan. Sebagian lain terpaksa menaikkan harga atau mengurangi kualitas kemasan.
Sayangnya perubahan perilaku mayoritas konsumen belum terlalu terlihat. Plastik tetap digunakan, tetap dibeli. Alasannya sederhana: belum ada alternatif yang benar-benar praktis dan terjangkau.
Di sinilah letak ironi kita hari ini: harga berubah cepat, tetapi kebiasaan berjalan lambat. Namun, apakah ini hanya akan menjadi episode krisis biasa? Atau justru awal dari sesuatu yang lebih besar?
Jika dilihat dari perspektif lingkungan hidup, kondisi ini sebenarnya membuka peluang yang jarang terjadi. Selama ini, plastik sulit ditinggalkan karena murah dan praktis.
Kampanye pengurangan plastik sering kali berhenti di tingkat kesadaran, tetapi kalah oleh kenyamanan. Kini, kenyamanan itu mulai terganggu. Dan dalam banyak kasus, perubahan justru lahir dari ketidaknyamanan.
