Senyum Perempuan Tani Garut di Balik Hangatnya Uap Geothermal Kamojang

istimewa
Senyum Perempuan Tani Garut di Balik Hangatnya Uap Geothermal Kamojang
0 Komentar

GARUT – Udara dingin khas Pegunungan Kamojang kerap diselimuti kabut tebal dan curah hujan tinggi. Bagi warga sekitar, iklim humid ini merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun bagi para ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekarsari di Garut, Jawa Barat, minimnya sinar matahari sempat menjadi penghalang besar saat memproses olahan hasil pertanian mereka.

Tantangan iklim tersebut kini bertransformasi menjadi kisah sukses pemberdayaan ekonomi.

Memanfaatkan kehangatan energi panas bumi (geothermal) yang melimpah di wilayah operasional PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang, para perempuan tani Garut berhasil mengolah beragam makanan ringan hingga menembus pasar nasional.

Baca Juga:Trauma Melaut, Korban KM Virgo Diberi Pekerjaan oleh Kapolres Garut, Ada yang Jadi Sopir hingga Pegawai KafeAda Badut Bawa Helm hingga Bagi Vitamin, Cara Unik Polisi di Garut Ajak Warga Tertib Lalu Lintas

Perjalanan KWT Mekarsari tidak diraih secara instan. Teti Setiarung, Ketua KWT Mekarsari, mengenang awal mula gerakan pemberdayaan ini yang berakar dari kepedulian sosial di lingkungan tempat tinggalnya.

“Awalnya kami dari ke-RW-an. Di sekolah tempat saya mengajar, banyak ibu-ibu yang hanya duduk menunggu anaknya sekolah sambil jajan. Daripada waktu terbuang begitu saja, saya ajak ibu-ibu membawa pekerjaan mengolah bumbu atau bahan camilan dari rumah,” tutur Teti.

Didirikan pada 2017, KWT Mekarsari mulanya aktif dalam kegiatan pemeliharaan lingkungan dan penanaman pohon.

Semangat kelompok semakin terpacu setelah meraih juara dalam lomba olahan tanaman pangan tingkat kecamatan hingga kabupaten pada 2019.

Modal awal usaha mereka pun sangat bersahaja. Hanya 9 orang anggota dari total 35 anggota kelompok yang mengumpulkan iuran masing-masing Rp50.000, terkumpul modal awal Rp450.000 pada tahun 2018.

Setelah sempat mengalami kerugian saat berjualan, ketekunan mereka mulai membuahkan hasil saat berjualan di kawasan Rest Area Parabon dengan mengantongi pendapatan minimal Rp300.000 per hari.

“Hasil jualan tersebut kami sisihkan 10 persen untuk petugas yang menjaga, Rp20.000 untuk anak yatim, dan sisanya masuk kas modal kelompok,” ungkap Teti.

Baca Juga:Longsor Tutup Jalan Penghubung Peundeuy-Cibalong Garut, Polisi dan Warga Gotong Royong Buka AksesSejumlah Wisatawan Mengeluh Muntah dan Diare Usai Liburan di Garut, Dinkes Selidiki Dugaan Penyebabnya

Titik balik kemajuan KWT Mekarsari terjadi pada tahun 2022 ketika PGE Kamojang merangkul kelompok ini sebagai mitra binaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Melalui pendampingan berkelanjutan, PGE memberikan bantuan rumah produksi, mesin peniris, hingga fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan air bersih.

0 Komentar