Rupiah Anjlok ke Rp18.185, Asing Kabur Besar-besaran, IHSG Ambruk 3,49 Persen!

ilustrasi uang rupiah (pixabay)
ilustrasi uang rupiah (pixabay)
0 Komentar

RADARGARUT– Pasar modal Indonesia kembali diguncang tekanan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis 29 Oktober 2026 dengan pelemahan tajam sebesar 184,25 poin atau 3,49 persen, menyentuh level 5.098,06.

Indeks LQ45 yang mewakili 45 saham unggulan ikut terpuruk lebih dalam, turun 24,19 poin atau 4,48 persen ke posisi 515,28.

Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan ganda yang menekan sentimen investor. Rupiah terus melemah dan sempat menyentuh level Rp18.185 per dolar Amerika Serikat.

Baca Juga:Waspada Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Garut Hari Ini, Suhu 18–31°CPelaku Curanmor di Cisonpet Garut Berhasil Diamankan Polisi, Pelaku Nekat Lakukan Aksinya Pada Siang Hari

Di saat yang sama, arus modal asing (capital outflow) masih berlanjut, menambah tekanan jual di pasar saham domestik. Kondisi tersebut berlangsung meski The Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan.

Menurut data yang dirilis BRI Danareksa Sekuritas, pelemahan pasar tidak hanya dipicu oleh faktor nilai tukar. Ketidakpastian terkait potensi penurunan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI juga menjadi bayang-bayang yang memberatkan.

Kekhawatiran ini membuat investor asing semakin berhati-hati dan memilih mengamankan portofolio mereka keluar dari pasar Indonesia.

“Tekanan rupiah dan arus modal asing menjadi risiko utama bagi pasar domestik,” tulis analisis BRI Danareksa Sekuritas, Jumat 30 Oktober 2026.

Tekanan jual yang masif terlihat dari pergerakan teknis IHSG. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di zona negatif dan kembali menunjukkan pelemahan momentum.

Harga IHSG juga berada jauh di bawah Moving Average 20 (MA20) yang berada di kisaran 5.646. Kondisi ini menegaskan bahwa tren turun masih mendominasi pergerakan bursa.

Ke depan, analis memperkirakan IHSG berpotensi menguji level support Fibonacci di 5.026. Jika level tersebut tembus, tekanan jual bisa membawa indeks lebih dalam ke area 4.942. Level-level ini menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga:BPBD Garut Salurkan Bantuan Air Bersih ke Kampung Cimerang Baru, Ringankan Beban Warga Terdampak KekeringanBGN Lakukan Permohonan Maaf Atas Insiden Keracunan Pada Siswa Wilayah Dramaga Bogor

Selain faktor eksternal, pasar juga menunggu rilis data penting domestik. Pekan depan, investor akan mencermati data perdagangan Indonesia untuk periode September serta angka inflasi Oktober.

Di samping itu, perkembangan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan sikap MSCI terkait klasifikasi pasar Indonesia akan menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya.

Dalam situasi penuh ketidakpastian seperti ini, sejumlah analis masih memberikan rekomendasi selektif. Salah satunya adalah saham DSSA yang direkomendasikan buy dengan resistance di level 710–730 dan support di 650.

0 Komentar