Kini, 13 anggota aktif standby setiap hari di rumah produksi, dan pembukuan kelompok mencatatkan penghasilan hingga Rp10 juta per bulan.
Bagi Teti dan para perempuan tani di Kamojang, kolaborasi ini bukan sekadar tentang angka penjualan, melainkan tentang martabat dan kemandirian ekonomi perempuan di pedesaan.
“Dengan bergabung bersama PGE, ibu-ibu semakin semangat dan mau membantu ekonomi suami, sehingga kita tidak hanya mengandalkan penghasilan suami semata,” tutup Ibu Teti dengan penuh syukur.
Baca Juga:Trauma Melaut, Korban KM Virgo Diberi Pekerjaan oleh Kapolres Garut, Ada yang Jadi Sopir hingga Pegawai KafeAda Badut Bawa Helm hingga Bagi Vitamin, Cara Unik Polisi di Garut Ajak Warga Tertib Lalu Lintas
Salah satu kendala terbesar dalam produksi camilan keripik dan olahan pertanian adalah proses pengeringan bahan baku.
Humas PGE Kamojang, Erwandi Yanto, menjelaskan bahwa PGE menangkap fenomena minimnya sinar matahari di Kamojang melalui social mapping.
“Kamojang memiliki cuaca yang sangat lembab dengan curah hujan tinggi, sehingga keberadaan sinar matahari sangat jarang. Sebelumnya, ibu-ibu mengeringkan hasil pertanian secara manual menggunakan sinar matahari yang memakan waktu 5 sampai 7 hari, hasilnya tidak stabil, dan rentan pengotor. Sementara jika menggunakan oven listrik, biaya operasionalnya sangat mahal,” jelas Erwandi Yanto.
Melihat kebutuhan tersebut, PGE mengintegrasikan energi panas bumi yang mereka kelola dengan kebutuhan warga melalui pengaplikasian teknologi Geothermal Dehydrator.
“Teknologi Geothermal Dehydrator ini merupakan oven pengering yang memanfaatkan panas bumi secara langsung tanpa mengonsumsi energi listrik. Kami melakukan transfer knowledge agar ibu-ibu KWT dapat mengoperasikannya,” ucap Erwandi.
Dampak inovasi ini sangat signifikan. Proses pengeringan bahan baku yang semula membutuhkan waktu 5 hingga 7 hari dipangkas secara drastis menjadi hanya 5 jam.
Efisiensi waktu dan biaya operasional ini meningkatkan kapasitas produksi hingga 100 persen sampai 200 persen.
Baca Juga:Longsor Tutup Jalan Penghubung Peundeuy-Cibalong Garut, Polisi dan Warga Gotong Royong Buka AksesSejumlah Wisatawan Mengeluh Muntah dan Diare Usai Liburan di Garut, Dinkes Selidiki Dugaan Penyebabnya
Berbekal teknologi pengeringan panas bumi, KWT Mekarsari bersama kelompok mitra binaan lainnya seperti KWT Gayatri menciptakan ekosistem olahan pangan berkualitas dengan merek dagang Geothermal Foods.
Ragam produk olahan yang dihasilkan sangat variatif, mulai dari stik ubi ungu, peyek cabai keriting, seblak kulit singkong, stik kentang, abon lele, hingga kerupuk berbumbu seblak khas Garut.
Produk olahan berbumbu seblak dan ubi ungu menjadi best seller yang paling diminati konsumen.
“Sekarang produksi berjalan setiap hari karena permintaan pasar yang tinggi dan berkelanjutan. Pemasaran produk Geothermal Foods tidak hanya di area lokal, tetapi sudah menembus pasar nasional, pusat perbelanjaan, dan hadir di berbagai marketplace online,” kata Erwandi Yanto. (*)
