“Dari APKI sebenarnya keluhannya cuma satu, yaitu kebijakan yang mendukung kami. Kami UMKM, penopang ekonomi rakyat semua. Kalau kami sampai tidak dapat berjalan, ya mungkin kami tidak bisa lagi mencari tempat untuk makan,” ujar Deni.
Ia mengatakan industri penyamakan kulit tetap harus berjalan dengan memperhatikan aspek lingkungan.
Untuk itu, APKI telah menjalin kerja sama dengan Universitas Islam Bandung (UNISBA) dalam pengembangan teknologi pengolahan limbah penyamakan kulit.
Baca Juga:Ribuan Guru Non-ASN Garut Belum Masuk Dapodik, Pemkab Koordinasi ke PusatBPBD Garut Distribusikan 369 Ribu Liter Air Bersih, Layani Lebih dari 15 Ribu Warga
“Pada dasarnya penyamakan kulit itu tidak seseram itu kalau kita bisa mengelola dengan baik. Malah lebih bermanfaat untuk semua. Bisa menjadi pakan, bisa menjadi pupuk dan bisa menjadi energi,” katanya.
Menurut Deni, dalam teknologi yang sedang dikembangkan, unsur krom yang digunakan dalam proses penyamakan dipisahkan terlebih dahulu dari material kulit.
Setelah melalui proses fisika dan kimia, material tersebut berpotensi diolah menjadi produk seperti asam humat dan asam amino.
“Temuan yang bekerja sama dengan UNISBA ini tinggal meminta dukungan dari dinas terkait dan pemangku kebijakan. Kami ingin melakukan inovasi yang bagus,” katanya.
Selain pengelolaan limbah, APKI juga memiliki gagasan mengembangkan kawasan industri kulit Sukaregang menjadi kawasan wisata industri.
“Kami akan melakukan inovasi yang bagus yang menjadikan Sukaregang itu menjadi wisata industri. Yang perlu diketahui, kita ini sudah hampir 100 tahun lebih,” ujarnya. (fer)
