PGE Area Kamojang Raih Dua Penghargaan EBTKE 2026, Inovasi Panas Bumi Dorong Green Jobs dan Ekonomi Lokal

istimewa
PGE Area Kamojang Raih Dua Penghargaan EBTKE 2026, Inovasi Panas Bumi Dorong Green Jobs dan Ekonomi Lokal
0 Komentar

JAKARTA – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang kembali mencatat prestasi dalam pengembangan pemanfaatan langsung energi panas bumi. Dua inovasi yang dikembangkan, yakni Geothermal Dryhouse dan Geothermal Drytube, meraih penghargaan dalam ajang Apresiasi Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) 2026.

PGE Area Kamojang meraih Juara 1 kategori Pembukaan Green Jobs & Pengembangan SDM Lokal dari Pemanfaatan Langsung Panas Bumi melalui Geothermal Dryhouse. Sementara Geothermal Drytube meraih Juara 3 kategori Penerapan Teknologi Panas Bumi untuk Pemanfaatan Langsung.

Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Baca Juga:Pelajar SMPN di Wanaraja Diduga Alami Kekerasan Fisik dan Verbal oleh Oknum Guru, Keluarga Lapor PolisiKarutan Garut Perkuat Sinergi dengan Kodim 0611, Dorong Kesiapsiagaan dan Keamanan Rutan

Dua inovasi tersebut merupakan bagian dari pengembangan pemanfaatan langsung panas bumi atau direct use geothermal yang telah dilakukan PGE Area Kamojang sejak 2013.

Berbagai inovasi tersebut kemudian terintegrasi dalam ekosistem KANYAAH atau Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal for All, yang menghubungkan pemanfaatan panas bumi dengan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi lokal.

Melalui program tersebut, kelebihan uap panas bumi dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas produktif, mulai dari pertanian, perikanan, produksi pupuk organik, hingga pengolahan kopi dan komoditas perkebunan, tanpa mengganggu keandalan pembangkitan listrik PGE Area Kamojang sebesar 235 MW.

Geothermal Dryhouse dikembangkan untuk membantu proses pengeringan kopi dan berbagai produk turunannya.

Teknologi ini mampu memangkas waktu pengeringan dari sekitar 30 hari dengan metode konvensional menjadi hanya 3 hingga 10 hari.

Efisiensi tersebut membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk mengembangkan aktivitas ekonomi dari proses pengolahan, pengemasan, pengembangan produk hingga pemasaran kopi.

Program tersebut memberikan dampak Green Jobs kepada 16 penerima manfaat yang sebagian besar berada pada rentang usia 25 hingga 34 tahun.

Baca Juga:Perkuat Pengamanan Rutan, Karutan Garut Bangun Sinergi dengan BrimobAktivis KAHMI Hendriyanto Attan Terima Gelar Kehormatan dari Karaton Surakarta Hadiningrat

Pemanfaatan teknologi tersebut juga disebut berkontribusi terhadap peningkatan penghasilan dari sekitar Rp1,44 miliar menjadi Rp1,62 miliar per tahun, atau naik sekitar 12,5 persen.

Selain itu, tiga warga lokal Kamojang turut terlibat dalam tim Commercial & Marketing di bawah Koperasi Pemasaran Bersama Kanyaah Kamojang.

Sementara itu, Geothermal Drytube dikembangkan untuk mempercepat pengeringan material organik dalam program Geothermal Organic Fertilizer atau GeO-Fert.

0 Komentar