RADARGARUT– Fenomena pengangguran dan pemutusan hubungan kerja (PHK) di kalangan generasi muda masih menjadi tantangan serius di dunia ketenagakerjaan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per periode Mei 2026 berada di angka 4,65 persen.
Meskipun angka ini terlihat relatif terkendali, para ahli menilai bahwa kondisi pasar kerja sesungguhnya masih belum ideal. Ekonom sekaligus Dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, memberikan catatan kritis terkait data terbaru. Menurutnya, tambahan hampir 1,9 juta pekerjaan yang tercipta memang terlihat besar di permukaan.
Namun, pada periode yang sama, jumlah angkatan kerja justru bertambah sekitar 1,862 juta orang.
Baca Juga:Miris! Puluhan Unit Kendaraan Milik Pelajar di Malangbong Garut Terjaring Razia Knalpot BrongApi Lahap Rumah Panggung Semi Permanen di Cikajang Garut, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta Rupiah
“Ini menunjukkan bahwa penciptaan pekerjaan hampir seluruhnya hanya mengimbangi tambahan orang yang masuk ke pasar kerja, namun belum cukup menghasilkan lompatan berarti dalam penurunan pengangguran,” ujar Achmad kepada media, Kamis 3 September 2026.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa jumlah pengangguran secara absolut hanya berkurang sekitar 35 ribu orang. Angka ini dinilai terlalu kecil jika dibandingkan dengan besarnya penambahan angkatan kerja. Achmad juga menyoroti data BPS lainnya yang mencatat 25,97 persen pekerja berstatus paruh waktu, sementara 7,27 persen tergolong setengah penganggur.
“Oleh karena itu, penurunan tingkat pengangguran terbuka tidak boleh dibaca secara terpisah. Kita harus melihat kualitas pekerjaan yang tersedia dan seberapa besar proporsi pekerja yang masih berada dalam kondisi underemployment,” tegasnya.
Di sisi lain, tantangan pengangguran tidak hanya soal jumlah lowongan, tetapi juga kesenjangan keterampilan. CEO & Founder Goodtalenta, Morizio Runtuwene, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama di balik fenomena ini adalah kebutuhan talenta yang semakin spesifik di perusahaan.
“Talent shortage atau masalah kekurangan talenta kandidat itu ada 72 persen dari seribu. Ada yang tidak diterima karena memang spesifikasinya tidak sesuai, tapi bukan berarti tidak sesuai itu spesifikasinya rendah,” kata Morizio dalam kesempatan terpisah di Jakarta, Jumat 28 Agustus 2026 silam.
Ia menambahkan, seiring berkembangnya kebutuhan industri, banyak perusahaan juga mengalami kesulitan dalam mempertahankan karyawan. Dari data yang dihimpun Goodtalenta, sekitar 70 persen dari 200 CEO global menyatakan bahwa mempertahankan karyawan menjadi salah satu tantangan terbesar saat ini.
