Kondisi ini mencerminkan dualisme di pasar kerja Indonesia. Di satu sisi, banyak pencari kerja, terutama generasi muda, kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Di sisi lain, perusahaan mengeluhkan kesulitan menemukan kandidat dengan keterampilan yang tepat.
Kesenjangan ini semakin diperparah oleh tingginya proporsi pekerja paruh waktu dan setengah penganggur, yang menunjukkan bahwa banyak orang bekerja di bawah kapasitas atau tanpa kepastian pendapatan yang memadai.
Para pengamat menilai bahwa pemerintah dan dunia usaha perlu bekerja sama lebih intensif untuk menciptakan lapangan kerja yang berkualitas, bukan sekadar menambah jumlah pekerjaan.
Baca Juga:Miris! Puluhan Unit Kendaraan Milik Pelajar di Malangbong Garut Terjaring Razia Knalpot BrongApi Lahap Rumah Panggung Semi Permanen di Cikajang Garut, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta Rupiah
Program pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri, peningkatan daya saing tenaga kerja, serta dukungan terhadap sektor-sektor padat karya menjadi kunci untuk menekan angka pengangguran secara lebih signifikan.
Dengan pertumbuhan angkatan kerja yang terus meningkat setiap tahun, upaya penciptaan lapangan kerja harus mampu melampaui laju penambahan pencari kerja. Jika tidak, pengangguran dan ketidakpastian kerja akan terus menjadi beban yang menghantui generasi muda Indonesia. (*)
