Kopi Garut Berpeluang Masuk Hotel, Distan Masih Bahas Harga hingga Kesiapan Petani

Kopi Paling Populer di Garut dengan Karakter Kuat, Jadi Favorit Barista dan Penikmat Kopi!
Kopi Paling Populer di Garut dengan Karakter Kuat, Jadi Favorit Barista dan Penikmat Kopi!. (Foto: Rizkiperatami/Radar Garut)
0 Komentar

GARUT – Potensi kopi Garut terus didorong agar memiliki pasar yang lebih luas, salah satunya melalui sektor perhotelan. Dinas Pertanian Kabupaten Garut mulai mempersiapkan kemungkinan produk kopi lokal menjadi bagian dari amenitas hotel seiring rencana kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengoptimalkan penggunaan produk unggulan daerah.

Kepala Bidang Perlindungan dan Pengembangan Usaha Pertanian (PPUP) Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Susi Suhartianti, mengatakan kopi menjadi salah satu komoditas unggulan yang potensinya cukup besar di Garut.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana mengeluarkan surat edaran yang mendorong pemanfaatan produk lokal, terutama kopi, teh dan aren, untuk masuk ke sektor perhotelan maupun produk olahan lainnya.

Baca Juga:Raperda PKL Garut Bakal Ubah Penertiban Jadi Penataan, Hak dan Perlindungan Pedagang DikajiDPMD Garut Lantik 2 Kades Hasil PAW, Jumardi Bidik Persoalan Air Bersih di Desa Cisewu

“Jadi kopi itu nanti akan ada Surat Edaran (SE) dari Pak Gubernur Jabar di mana potensi lokal terutama kopi, teh, dan aren itu bisa menjadi amenities-nya di hotel ataupun bisa menjadi jamu,” ujar Susi.

Menindaklanjuti rencana tersebut, Dinas Pertanian Garut mulai berkomunikasi dengan Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APKI) Garut. Pembahasan dilakukan untuk mengetahui kesiapan petani dan pelaku usaha dalam memenuhi kebutuhan hotel jika kebijakan tersebut mulai diterapkan.

“Jadi kami masih berdiskusi sebenarnya mereka itu sanggup nggak kalau misalnya nanti amenities-nya seperti apa. Nah itulah yang kemarin itu sebenarnya mereka sudah mencoba menjajaki itu,” katanya.

Susi mengatakan kualitas kopi Garut menjadi modal penting untuk masuk ke pasar perhotelan. Namun, kualitas tersebut harus dijaga sejak proses panen hingga pasca panen agar produk yang dihasilkan tetap memiliki karakter dan mutu yang baik.

“Itu perlakuannya juga yang bagus, di pasca panennya bagus, tidak dicampur-campur lah istilahnya. Kalau kita kopi Garut yang benar, yang tidak dicampur dengan apa pun,” jelasnya.

Meski peluang pasar cukup terbuka, masih terdapat sejumlah persoalan yang harus dibahas. Salah satunya adalah kesesuaian harga antara produk yang ditawarkan petani dengan kebutuhan hotel.

Menurut Susi, upaya memasukkan kopi Garut ke sektor perhotelan sebenarnya telah dirintis sebelumnya, namun terkendala kesepakatan harga.

0 Komentar