Dilema Penataan Pasar Baru Garut, Dapur Pedagang Terancam Padam

Radar Garut
Kawasan pasar baru Garut. (Iqbal/Radar Garut)
0 Komentar

​Langkah kaki di sudut Pasar Baru Garut terasa makin berat. Di antara tiang-tiang kayu lapak yang sebagian telah mengosong, hembusan angin membawa aroma penantian yang tak pasti.

Rencana besar mengubah kawasan ini menjadi “Garut Center” memang menyalakan secercah harapan bagi para pedagang kaki lima (PKL).

Namun, di balik narasi kemolekan kota dan perbaikan roda ekonomi masa depan, ada napas warga yang tersengal-sengal menahan lapar.

Baca Juga:Kebakaran di Kabupaten Garut Meningkat 50,2 Persen, Kebakaran Lahan Melonjak 676,2 PersenPolemik Akun SIAP Piala Soeratin, Ketua Askab PSSI Garut Beri Penjelasan

​Bagi Obay (62), salah seorang pengelola Pasar Baru, kondisi ekonomi para pedagang belakangan ini tak sekadar melesu, melainkan berada di titik nadir. “Lemah. Nggak lemah lagi, mati lah,” cetusnya lirih pada Jumat (21/8/2026).

​Sejak empasan pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, geliat transaksi di pasar tak pernah benar-benar pulih. Kini, ketika semangat untuk bangkit mulai dipupuk lewat proyek penataan ulang, para pedagang justru dihadapkan pada ujian baru yang tak kalah berat berhenti berjualan total selama rentang waktu empat bulan.

​Bayang-bayang Empat Bulan Tanpa Dapur Ngebul

​Pemerintah daerah memang telah melayangkan surat edaran agar area pasar dikosongkan sejak 14 Agustus, diikuti rencana pembongkaran sehari setelahnya.

Namun hingga sepekan berlalu, proses itu menggantung tanpa kejelasan. Di satu sisi, pedagang menyadari penyesuaian ukuran lapak dari dua meter menjadi 1,5 meter dilakukan demi merangkul seluruh kuota PKL. Namun di sisi lain, urusan perut hari ini tak bisa ditunda hingga penataan usai.​Opsi relokasi sementara ke kawasan GP sempat mengemuka. Sayangnya, skema tersebut membebankan biaya pembuatan tempat jualan (jongko) baru kepada pedagang.

Bagi mereka yang penghasilan harian untuk sekadar makan saja kerap tak mencukupi, opsi itu memicu persoalan baru. Pengajuan kompensasi telah dilayangkan, tetapi jawaban yang dinanti tak kunjung datang.

​Feri (37), seorang pedagang setempat, merespons rencana revitalisasi ini dengan sikap terbuka. Namun, raut kecemasan tak bisa disembunyikan dari wajahnya saat memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup selama 120 hari ke depan.

​“Kami menyambut baik penataan ini untuk perbaikan ekonomi ke depan. Tapi selama libur ini kan belum ada solusi dari pemerintah, bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tutur Feri.

0 Komentar