Di tengah perubahan zaman dan semakin sedikitnya orang yang mengetahui cerita Atam secara langsung, tugu dan makam menjadi bagian penting untuk menjaga ingatan tersebut agar tidak hilang.
Pada prasasti tugu, terdapat pesan yang hingga kini masih menyuarakan semangat perjuangan Atam.
“Jiwa dan raga kebaktian ke pangkuan Ibu Pertiwi. Teruskanlah kawan. Teruskanlah perjuangan.”
Baca Juga:PAD Garut Tembus 50 Persen, Bapenda Bidik Capaian di Atas 90 PersenNikmati Perjalanan Merdeka Dengan Diskon Istimewa dari Daop 2 Bandung
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan pesan yang panjang.Atam telah gugur hampir delapan dekade silam. Generasi yang pernah menyaksikan perjuangannya pun semakin sedikit. Namun di Leuwigoong, namanya masih disebut, makamnya masih diziarahi, dan tugunya masih berdiri.
Di sanalah kisah Atam terus hidup. Bukan hanya sebagai cerita tentang seorang pejuang yang gugur melawan tentara Belanda, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini pernah dipertahankan oleh orang-orang yang bahkan jejak keluarganya kini sulit ditemukan.
Yang mereka tinggalkan bukan kekayaan atau jabatan, melainkan pengorbanan.Dan bagi masyarakat Leuwigoong, nama Atam menjadi salah satu bagian dari pengorbanan itu. (*)
