Oleh : Budi Lesmana, Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Garut
SAAT mengunjungi Desa Sukamurni, salah satu desa asri di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, langkah kaki saya mendadak terhenti oleh sebuah pemandangan yang menggelitik sekaligus memprihatinkan. Di sepanjang jalan desa, bertebaran spanduk-spanduk mencolok yang bertuliskan sebuah frasa satire yang cukup vulgar: “Wisata Podol Sapi” (Wisata Kotoran Sapi). Ungkapan ini tentu saja bukan sebuah undangan rekreasi, melainkan sebuah jeritan dan bentuk protes keras dari warga setempat yang sudah jenuh menghadapi persoalan lingkungan yang tidak kunjung usai.
Setelah berbincang langsung dengan masyarakat desa, tabir di balik spanduk tersebut akhirnya terungkap. Istilah “Wisata Podol Sapi” lahir karena kejengkelan warga akibat pencemaran lingkungan yang masif. Limbah kotoran hewan (kohe) dari peternakan sapi di atas bukit dibiarkan mengalir begitu saja dan mencemari aliran sungai lokal.
Padahal, bagi masyarakat Desa Sukamurni, sungai tersebut adalah urat nadi kehidupan. Air sungai tersebut merupakan sumber utama untuk mengairi petak-petak persawahan, menyiram perkebunan, hingga memenuhi kebutuhan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) sehari-hari. Ketika air bersih berubah menjadi genangan limbah berbau menyengat, produktivitas pertanian menurun dan kesehatan warga menjadi taruhannya.
Baca Juga:Ratusan Peserta Ramaikan Turnamen Domino Piala Panglima TNI di GarutRazia Miras di Tarogong Kaler, Polisi Sita Puluhan Botol dari Penjual Tanpa Izin
Namun, di tengah aroma busuk konflik lingkungan ini, secercah harapan muncul dari pemikiran kreatif seorang warga bernama Pak Syahid. Alih-alih larut dalam demonstrasi tanpa ujung, beliau berinisiatif membalikkan masalah menjadi berkah. Pak Syahid melihat peluang emas dari gunungan kotoran sapi tersebut: menjadikannya pakan utama bagi cacing tanah.
Langkah solutif ini tidak dia jalankan sendirian. Pak Syahid berhasil menggerakkan kesadaran kolektif warga dengan merangkul 30 orang warga lainnya untuk membentuk kelompok ternak cacing tanah secara swadaya. Mekanisme kerja budidaya ini terbilang sederhana namun sangat efektif.
Limbah kohe sapi yang tadinya berpotensi merusak ekosistem sungai dikumpulkan untuk difermentasi, kemudian dijadikan makanan utama bagi cacing tanah. Proses biologis alami ini menghasilkan produk sampingan yang luar biasa berharga berupa bekas cacing atau yang akrab dikenal dengan sebutan kascing. Kotoran cacing inilah yang kemudian dipanen dan disulap menjadi pupuk organik berkualitas tinggi guna menghidupkan kembali kesuburan kebun dan sawah warga yang sempat tercemar.
