“Potensi pendonor sebenarnya jauh lebih besar. Masih banyak masyarakat yang belum tersentuh edukasi dan belum menjadi pendonor rutin,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan PMI tidak mengejar jumlah kantong darah sebanyak-banyaknya. Menurutnya, stok harus dikelola secara tepat karena darah memiliki masa simpan terbatas.
“Kalau terlalu banyak justru merugikan karena darah yang kedaluwarsa harus dimusnahkan. Padahal setiap kantong darah sudah melalui proses pemeriksaan yang membutuhkan biaya. Jadi prinsipnya jangan sampai kurang, tetapi juga jangan berlebihan,” tegasnya.
Baca Juga:Poliklinik Lapas Garut Raih Akreditasi Paripurna dari Kementerian Kesehatan20 Pengedar Narkoba di Garut Ditangkap dalam Kurun Waktu Dua Bulan
Untuk menjaga keseimbangan stok, PMI Garut juga terus melakukan pelatihan motivator donor darah serta menjalin komunikasi dengan PMI daerah lain apabila terjadi kelebihan maupun kekurangan persediaan.
Hingga saat ini, lanjut Helmi, PMI Garut belum menjadi pemasok darah tetap bagi wilayah Priangan karena fasilitas pengolahan komponen darah di Kota Bandung masih lebih lengkap.
“Kalau ada kebutuhan komponen darah yang langka di wilayah Priangan, umumnya tetap mengacu ke Kota Bandung. Mengolah dalam jumlah terlalu banyak juga tidak efisien, sementara kalau sedikit kekurangan masih bisa saling membantu antardaerah,” pungkasnya. (*)
