Bangun Keberanian Guru TK Lewat Seni Abstrak
GARUT – “Saya tidak bisa menggambar”. Kalimat sederhana itu ternyata masih kerap terdengar dari guru-guru Taman Kanak-kanak (TK) ketika diminta mengajar seni rupa. Bukan karena mereka tidak menyukai seni, melainkan karena merasa kemampuan menggambarnya belum cukup baik. Ukuran “baik” yang dimaksud pun hampir selalu sama, yakni gambar harus menyerupai objek aslinya.
Berangkat dari kenyataan tersebut, STIT Qurrota A’yun Garut berkolaborasi dengan PGRI Kecamatan Cilawu dan PGTKI Kecamatan Cilawu menggelar Workshop Art Collaboration with Oil Pastel. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi para guru untuk melihat kembali hakikat pendidikan seni rupa bagi anak usia dini.
Workshop tersebut tidak mengajarkan cara menggambar gunung yang simetris, rumah yang sempurna, atau bunga yang menyerupai foto. Sebaliknya, peserta justru diajak melepaskan ketakutan terhadap kesalahan dan memahami bahwa seni tidak selalu harus realistis. Seni dapat lahir melalui garis, warna, tekstur, dan imajinasi yang berasal dari pengalaman setiap individu.
Baca Juga:Truk Pengangkut Lima Ton Bahan Bangunan Terguling di Pamulihan, Dua Orang TerlukaJelang Musda Golkar Garut, Suksesi Kepemimpinan Diminta Tetap Mengacu AD/ART
Sejak sesi pertama dimulai, suasana pelatihan terasa hangat dan penuh antusiasme. Tidak tampak peserta yang cemas karena takut salah menggambar atau khawatir hasil karyanya dinilai buruk. Yang hadir justru gelak tawa, diskusi, serta rasa penasaran ketika warna-warni oil pastel mulai memenuhi lembar-lembar kertas besar yang dikerjakan secara kolaboratif.
Pemateri workshop, Muhammad Surya Gumilang, S.Pd., M.Hum., mengatakan persoalan terbesar dalam pembelajaran seni di PAUD bukan terletak pada kemampuan anak, melainkan pada cara pandang orang dewasa dalam menilai karya mereka.
“Selama ini kita terlalu sering mengukur gambar anak menggunakan standar orang dewasa. Padahal anak tidak sedang belajar menjadi pelukis realistis. Mereka sedang belajar mengenal dirinya, berpikir, berimajinasi, dan mengekspresikan perasaannya melalui gambar,” ujarnya.
Menurutnya, banyak guru kehilangan rasa percaya diri karena terbiasa melihat contoh-contoh gambar yang dianggap ideal. Bahkan, tidak sedikit yang terpengaruh oleh standar lomba menggambar atau mewarnai yang lebih menitikberatkan pada kemiripan bentuk, kerapian, dan teknik mewarnai dibandingkan proses berpikir kreatif anak.
