“Belum tentu semua juri lomba memahami fase perkembangan seni rupa anak usia dini. Akibatnya, standar orang dewasa tanpa sadar dibawa ke ruang kelas. Guru akhirnya merasa harus bisa menggambar realistis agar dianggap mampu mengajar seni,” jelasnya.
Menggambar Proses Penting Perkembangan Anak
Padahal, lanjut Surya, dalam kajian pendidikan seni modern, aktivitas menggambar bagi anak bukan semata menghasilkan karya yang indah. Menggambar merupakan proses penting dalam perkembangan berpikir kreatif, koordinasi motorik halus, konsentrasi, keberanian mengambil keputusan, hingga kemampuan mengelola emosi.
Melalui seni abstrak, anak diberi ruang untuk menemukan berbagai kemungkinan. Tidak ada jawaban yang salah, tidak ada bentuk yang harus ditiru. Setiap goresan memiliki cerita, setiap warna membawa makna, dan setiap karya menjadi representasi pengalaman yang berbeda.
Baca Juga:Truk Pengangkut Lima Ton Bahan Bangunan Terguling di Pamulihan, Dua Orang TerlukaJelang Musda Golkar Garut, Suksesi Kepemimpinan Diminta Tetap Mengacu AD/ART
“Inilah yang disebut berpikir divergen. Anak belajar bahwa satu persoalan bisa memiliki banyak jawaban. Mereka bebas bereksplorasi, berimajinasi, dan menemukan ide-idenya sendiri. Kemampuan seperti inilah yang sangat dibutuhkan pada abad ke-21,” tambahnya.
Tidak hanya menyampaikan teori, workshop juga dirancang dengan pendekatan yang aplikatif. Para guru diajak merasakan langsung pengalaman berkarya menggunakan oil pastel melalui teknik-teknik sederhana yang mudah diterapkan di kelas, mulai dari eksplorasi garis, permainan warna, penciptaan tekstur, hingga membuat karya kolaboratif.
Pendekatan tersebut membuat para peserta menyadari bahwa mengajar seni tidak selalu membutuhkan kemampuan menggambar yang luar biasa. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan guru menciptakan suasana belajar yang aman, memberi ruang eksplorasi, mengajukan pertanyaan yang membangkitkan rasa ingin tahu, serta menghargai setiap proses yang dijalani anak.
“Kita tidak perlu lagi berkata, ‘Gambarnya salah.’ Sebaliknya, mari bertanya, ‘Ceritakan gambarmu.’ Kalimat sederhana itu mampu membuka dunia imajinasi anak yang luar biasa,” katanya.
Sepanjang workshop berlangsung, warna-warni oil pastel memenuhi bidang gambar. Berbagai karya abstrak tercipta dengan karakter yang berbeda-beda, mencerminkan bahwa tidak ada dua orang yang memiliki cara berpikir dan pengalaman yang sama.
Tidak Harus jadi Pelukis Profesional
Kolaborasi STIT Qurrota A’yun Garut, PGRI Kecamatan Cilawu, dan PGTKI Kecamatan Cilawu menjadi bukti bahwa peningkatan kompetensi guru tidak selalu harus berlangsung dalam suasana formal. Melalui pengalaman berkarya bersama, para guru justru menemukan kembali bahwa seni adalah ruang bermain yang mampu membangun rasa percaya diri, menghadirkan kegembiraan, sekaligus mempererat hubungan antara guru dan anak.
