Rupiah Kembali Melemah! Hampir Sentuh Angka Rp.18,000 Per Dolar AS

ilustrasi uang rupiah (pixabay)
ilustrasi uang rupiah (pixabay)
0 Komentar

RADARGARUT– Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,50% ke level Rp17.925 per US$.

Pelemahan ini menandai tren negatif rupiah selama empat hari perdagangan berturut-turut, seiring dengan penguatan dolar AS di pasar global.

Sepanjang sesi perdagangan hari ini, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp17.955 per dolar AS. Meski sempat menyentuh level yang lebih kuat di awal sesi, tekanan jual yang terus berlanjut membuat rupiah sulit bertahan dan semakin mendekati level psikologis krusial Rp18.000 per US$.

Baca Juga:Sejumlah Relawan SPPG Akui Tercekik Masalah Ekonomi Akibat Pemberhentian Sementara MBGPelaku Penyekapan dan Penyiksaan Perempuan Taufik Hidayat Ditangkap di Majalaya

Jika level tersebut ditembus, dikhawatirkan akan memicu sentimen negatif yang lebih luas di pasar keuangan domestik. Penguatan dolar AS menjadi faktor utama di balik pelemahan rupiah. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia lainnya, tercatat menguat 0,14% ke level 101,547 pada pukul 15.00 WIB.

Dolar AS kini berada di level tertinggi dalam lebih dari setahun, didorong oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) yang semakin hawkish.

Rapat kebijakan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan lalu, yang merupakan rapat pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed baru, Kevin Warsh, memberikan sinyal yang jelas.

Pasar menilai The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga di tahun ini. Menurut data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada rapat Juli melonjak tajam menjadi 36,3% (dari sebelumnya hanya 8,5%).

Sementara untuk rapat September, peluangnya meningkat menjadi 69,1% dari 29,1% sepekan sebelumnya. Ekspektasi ini memperkuat daya tarik aset dolar dan obligasi AS, sehingga menekan mata uang emerging market termasuk rupiah.

Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, dalam Economic Update CNBC Indonesia 2026 menekankan pentingnya kerja sama semua pihak.

“Rupiah itu kan mata uang kita bersama, jadi tentunya untuk menjaga stabilitas rupiah itu enggak bisa hanya BI sendiri. Saya juga ingin mengajak semua masyarakat, semua bangsa Indonesia untuk kita bersama-sama menjaga rupiah,” ujarnya.

0 Komentar