RADARGARUT– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatat penurunan dramatis pada perdagangan sesi I, Rabu, 3 Juni 2026. Indeks acuan pasar saham Indonesia ini tiba-tiba terjun bebas lebih dari 4%, menjauh jauh dari level psikologis 6.000.
Menurut data RTI Business, hingga tengah sesi I, IHSG melemah 4,02% atau setara 249,13 poin ke posisi 5.946,67. Padahal, indeks sempat dibuka di zona hijau pada level 6.213,80. Penurunan mendadak ini mengejutkan banyak pelaku pasar, mengingat volatilitas tinggi yang sudah berlangsung sejak awal tahun.
Volume perdagangan tercatat cukup aktif dengan 20,72 miliar lembar saham diperjualbelikan, senilai Rp11,76 triliun. Total frekuensi transaksi mencapai 1.432.965 kali. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 676 saham mengalami pelemahan, hanya 56 saham yang menguat, dan 81 saham stagnan.
Baca Juga:Waspada Penyakit Hati, Menkes Tekankan Deteksi Dini dan Gaya Hidup SehatMedia Singapura Soroti Kunjungan Luar Negeri Prabowo, Ini yang Dibahas
Indeks LQ45 sebagai representasi saham-saham likuid juga ikut terkoreksi 3,81%. Beberapa saham blue chip dan favorit investor mengalami tekanan jual yang cukup berat.
MDKA (PT Merdeka Copper Gold Tbk) anjlok 11,36% ke Rp2.340
BBCA (PT Bank Central Asia Tbk) turun 3% ke Rp5.650
BNBR (PT Bakrie & Brothers Tbk) bahkan menyentuh Auto Reject Bawah (ARB) dengan penurunan 14,96% ke Rp108
Sepanjang tahun 2026, IHSG sudah mengalami koreksi kumulatif hingga 31,19% (year-to-date). Tren pelemahan ini menunjukkan bahwa pasar saham domestik masih berada di bawah tekanan yang cukup kuat.
Analis pasar menyebut beberapa faktor yang mungkin menjadi pemicu, antara lain sentimen global yang kurang mendukung, pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang semakin mendekati level Rp18.000, serta outflow investor asing yang masih berlanjut.
Selain itu, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi domestik dan ketidakpastian politik juga turut memberikan kontribusi negatif terhadap pergerakan IHSG.
Bagi investor ritel, kondisi ini tentu menjadi tantangan besar. Banyak yang khawatir akan capital loss lebih dalam jika tren negatif ini berlanjut. Di sisi lain, sebagian pelaku pasar justru melihat peluang bargain hunting pada level-level harga yang sudah cukup rendah.
Pergerakan IHSG ke depan akan sangat bergantung pada data ekonomi makro yang akan dirilis serta respons pemerintah dan otoritas terkait dalam menjaga stabilitas pasar. Pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada dan melakukan manajemen risiko yang ketat di tengah kondisi pasar yang sangat fluktuatif.(*)
