Pada kasus berat, dapat berkembang menjadi sindrom paru-paru hantavirus (HPS) yang mengganggu pernapasan atau sindrom demam berdarah dengan gagal ginjal (HFRS). Varian Seoul yang ditemukan di Indonesia lebih sering terkait dengan masalah ginjal.
Penting dicatat bahwa hantavirus bukan virus baru di Indonesia. Penelitian tentang virus ini sudah dilakukan sejak 1984, sebagaimana disebutkan dalam review jurnal Viruses tahun 2019.
Artinya, virus ini sudah lama beredar, tetapi deteksi kasus meningkat mungkin karena kesadaran dan kemampuan tes laboratorium yang lebih baik.
Baca Juga:Harga Pertalite Tanpa Subsidi Tembus Rp16.000/Liter, Ini FaktanyaPolisi Lakukan Investigasi Mendalam Terhadap Supir Taksi Green SM: Temukan Fakta Baru Kronologi Taksi Mogok
Upaya Pencegahan dan Respons Pemerintah
Menghadapi situasi ini, pemerintah terus melakukan pemantauan ketat. DPR RI bahkan mendesak agar pintu masuk negara diperketat untuk mencegah masuknya varian yang lebih berbahaya dari luar negeri.
Kemenkes juga aktif melakukan surveilans, terutama di daerah dengan populasi tikus yang tinggi atau lingkungan kumuh.
Untuk masyarakat, pencegahan paling efektif adalah menjaga kebersihan lingkungan. Beberapa langkah sederhana yang direkomendasikan:
- Tutup rapat tempat penyimpanan makanan agar tidak dihinggapi tikus.
- Bersihkan rumah secara rutin, terutama gudang, loteng, atau area tersembunyi.
- Gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan kotoran tikus.
- Hindari kontak langsung dengan hewan pengerat liar.
Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala demam mendadak disertai gangguan pernapasan atau buang air kecil setelah kontak dengan lingkungan berisiko.
Meski tingkat penularan antarmanusia sangat rendah dan hampir tidak ada untuk varian Seoul, kewaspadaan tetap diperlukan. Kasus di kapal pesiar internasional menjadi pengingat bahwa mobilitas global bisa mempercepat penyebaran.
Dengan dua suspek terbaru yang sudah sembuh, masyarakat diharapkan tidak panik berlebihan. Namun, ini juga momentum untuk meningkatkan kesadaran kolektif tentang penyakit zoonotik. Lingkungan bersih bukan hanya mencegah hantavirus, tapi juga berbagai penyakit lain seperti leptospirosis, rabies, atau demam berdarah.(*)
