Puncak keberhasilan terjadi pada 2013 ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional melalui Keppres, efektif mulai 2014. Keputusan ini lahir dari tekanan aksi buruh yang konsisten.
Kejadian Besar yang Mengguncang
Beberapa aksi May Day di Indonesia tercatat sebagai peristiwa besar. Pada 1 Mei 2012, ribuan buruh dari Jabodetabek menggelar demonstrasi massal di Bundaran HI, Monas, dan depan DPR/MPR.
Aksi ini menolak revisi UU Ketenagakerjaan yang dianggap merugikan pekerja, khususnya soal outsourcing. Pawai dari udara terlihat mencolok dengan spanduk warna-warni dan tuntutan penghapusan sistem kontrak seumur hidup.
Baca Juga:Tragedi Maut Bekasi Timur: Kemenhub Sidak Ketat Pool Taksi Green SMKomdigi Blokir Jutaan Akun Tiktok Anak Dibawah Umur
Aksi serupa terjadi pada 2006, 2008, dan 2019, di mana puluhan ribu buruh long march menuntut penghapusan outsourcing, upah layak, dan reformasi jaminan sosial. Di beberapa kota, aksi sempat diwarnai ketegangan dengan aparat, meski mayoritas berlangsung damai.
Pada era sekarang, buruh dari KSPI dan aliansi lain membawa tuntutan konkret seperti penghapusan outsourcing, stop PHK massal, pengesahan RUU Ketenagakerjaan baru, perlindungan pekerja rumah tangga (PPRT), upah layak, serta isu gig worker seperti tarif ojol. Bahkan pada 2026, aksi sempat direncanakan di DPR tapi bergeser ke Monas untuk dialog dengan Presiden Prabowo Subianto.
Makna Hari Ini bagi Buruh Indonesia
Bagi buruh Indonesia, May Day memiliki makna ganda, peringatan sejarah dan panggilan aksi. Di tengah tantangan seperti fleksibilitas pasar kerja, dominasi outsourcing, upah yang sering tak sebanding dengan inflasi, hingga PHK akibat otomatisasi, hari ini mengingatkan bahwa perubahan tak datang dengan sendirinya.
Buruh menuntut kebijakan yang adil yang mencakup jam kerja manusiawi, jaminan sosial yang kuat, perlindungan serikat buruh, dan pembangunan yang inklusif. May Day juga menjadi pengingat persatuan. Dari buruh pabrik di kawasan industri hingga driver ojek online dan pekerja informal, semua terhubung dalam semangat solidaritas.
Di Astana Hilir atau kota-kota lain di Jawa Barat, aksi lokal sering menyuarakan isu regional seperti kondisi kerja di sektor manufaktur dan pertanian.
Meski telah menjadi hari libur, esensi May Day tetap pada perjuangan. Buruh Indonesia terus bergerak untuk masa depan di mana kerja bukan lagi sumber penderitaan, melainkan pondasi kesejahteraan bersama. Seperti slogan lama, “Buruh Bersatu, Tak Terkalahkan.” (*)
