KARAWANG – Menjelang dimulainya musim tanam gadu, ketersediaan pupuk bersubsidi di Jawa Barat dipastikan dalam kondisi aman dan sesuai alokasi. Hal ini menjadi penting mengingat musim tanam tahun ini diperkirakan beriringan dengan fenomena kemarau yang lebih panjang.
PT Pupuk Kujang Cikampek terus mengoptimalkan kapasitas produksi guna menjaga stabilitas pasokan pupuk bagi petani. Upaya ini dilakukan agar kebutuhan pupuk tetap terpenuhi, terutama saat petani memasuki fase awal pertumbuhan tanaman.
“Performa produksi terus dioptimalkan untuk terus memastikan ketersediaan pupuk bagi petani,” kata Ade Cahya Kurniawan, Sekretaris Perusahaa Pupuk Kujang, Senin, 27 April 2026.
Baca Juga:Doa Ulama Iringi Muscab PPP Garut , Harus jadi Momentum Kembalikan Jati Diri PartaiRutan Garut Perkuat Komitmen Zero HALINAR, Tekankan Integritas dan Pengawasan Internal
Berdasarkan data hingga 23 April 2026, total stok pupuk bersubsidi di Jawa Barat tercatat mencapai 26.278,9 ton. Jumlah tersebut terdiri dari pupuk Urea sebanyak 22.963,8 ton, NPK 1.817 ton, serta pupuk organik sebesar 2.657 ton.
Ade menjelaskan, stok tersebut tersimpan di gudang lini 1 dan lini 3 serta terpantau melalui sistem digital secara real time, sehingga distribusi dapat dikendalikan dengan baik.
Distribusi pupuk juga telah menjangkau berbagai wilayah strategis, termasuk sentra produksi pangan seperti Indramayu, Karawang, dan Subang. Selain itu, daerah lain di Jawa Barat juga telah disiapkan untuk memastikan tidak terjadi kekurangan pasokan.
Di Kabupaten Garut, stok pupuk urea bersubsidi mencapai 1.839 ton atau setara 225 persen dari batas minimum yang ditetapkan. Persediaan tersebut tersebar di sejumlah gudang penyangga, seperti di Cisurupan, Banyuresmi, dan Cikelet.
“Dengan stok pupuk tersebut, petani diharapkan tidak khawatir dan bisa melakukan budidaya dengan optimal saat musim kemarau nanti,” ungkap Ade.
Sementara itu, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jawa Barat, musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada akhir April 2026 dan akan meluas ke sekitar 56 persen wilayah pada bulan Mei.
BMKG juga memproyeksikan sekitar 93 persen wilayah Jawa Barat berpotensi mengalami kondisi kering, dengan durasi musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan biasanya. Hanya sekitar 10 persen wilayah yang diprediksi memiliki durasi kemarau normal.
Baca Juga:Kemenangan Kelas Pekerja Jangan Dikhianati, GMNI Desak DPRD dan Pemda Garut Segera Bentuk Perda PRTMenanamkan Cinta Bumi Sejak Dini: Pendidikan Kecil, Dampak Besar
Puncak musim kemarau sendiri diperkirakan akan terjadi pada Agustus 2026, sehingga kesiapan sarana produksi seperti pupuk menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian di tengah keterbatasan air. (*)
