Pemkab Garut Tetapkan Tanggap Darurat Bencana, Alokasi BTT Disiapkan Sejak Dini

Longsor menutupi badan jalan Jatiwangi, akses transportasi terputus. (Istimewa)
Longsor menutupi badan jalan Jatiwangi, akses transportasi terputus. (Istimewa)
0 Komentar

GARUT – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Garut dalam beberapa waktu terakhir memicu terjadinya berbagai bencana, seperti longsor dan banjir, di sejumlah wilayah.

Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut menetapkan status Tanggap Darurat yang berlaku mulai 18 April hingga 1 Mei 2026.

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menyampaikan bahwa informasi dari BMKG telah lama menunjukkan potensi kebencanaan di wilayah Garut.

Baca Juga:Garut Optimistis Lampaui Target Investasi Rp2,44 Triliun Tahun 2026Lantik Puluhan Pejabat Dilingkungan Pemkab Garut, Bupati Berikan Pesan Tegas

Oleh karena itu, penetapan status tanggap darurat dinilai penting agar pemerintah dapat bergerak cepat, terutama dalam penggunaan anggaran Biaya Tak Terduga (BTT).

“Itu perlu dinyatakan supaya apa? Supaya kita bisa bergerak cepat, atas dasar penyataan itu maka kita bisa melakukan penggunaan BTT,” ujarnya saat dikonfirmasi belum lama ini.

Syakur menegaskan bahwa Garut sejak dulu dikenal sebagai daerah rawan bencana. Karena itu, setiap informasi terkait potensi bencana perlu segera disampaikan kepada masyarakat agar langkah mitigasi dapat dilakukan sejak dini.

“Emang Garut masih dari dulu juga daerah rawan bencana, makanya segera diumumkan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, alokasi BTT pada tahun anggaran 2026 berada di angka Rp22,5 miliar, yang relatif tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, pada tahun 2025, anggaran tersebut tidak banyak digunakan.

Lebih lanjut, Syakur menyebutkan bahwa bencana yang kerap terjadi di Garut adalah longsor dan banjir. Dari total 42 kecamatan, wilayah Garut Selatan masih menjadi kawasan paling rawan.

“Ya longsor, banjir, paling rawan diwilayah Garut Selatan seperti Pakenjeng, Karangpawitan juga banyak sekarang kan saya sudah terima surat, kemudian Cisompet, Bajarwangi, Singajaya, dari dulu juga emang kejadiannya suka banyak di situ,” lanjutnya.

Baca Juga:Kenaikan Pangkat dan Ikrar Zero HALINAR, Lapas Garut Perkuat Integritas dan Profesionalisme PegawaiTerharu Lihat Semangat Ihsan, Wagub Jabar Pastikan Sekolahnya Lanjut

Ia juga mengingatkan bahwa sebagian bencana terjadi akibat perilaku manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam memanfaatkan lahan.

“Makanya saya nitip untuk manfaatan lahan itu harus hati-hati, karena kejadiannya beberapa tempat itu ya lahan di atasnya sudah jadi kebun sehingga longsor,” ucapnya.

Selain faktor manusia, bencana juga dipengaruhi oleh kondisi alam seperti curah hujan yang tinggi. Pemkab pun terus berupaya menangani dampak yang ditimbulkan.

0 Komentar