GARUT — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut menargetkan realisasi investasi sebesar Rp 2,44 triliun pada tahun 2026.
Target tersebut meningkat dibandingkan target tahun 2025 yang ditetapkan sebesar Rp 2,40 triliun.
Kepala DPMPTSP Kabupaten Garut, Budi Gan Gan, menyampaikan bahwa meskipun target telah ditentukan, namun pihaknya optimis bisa melampaui angka tersebut.
Baca Juga:Lantik Puluhan Pejabat Dilingkungan Pemkab Garut, Bupati Berikan Pesan TegasKenaikan Pangkat dan Ikrar Zero HALINAR, Lapas Garut Perkuat Integritas dan Profesionalisme Pegawai
“Kami tidak hanya berbicara target sekian lalu tercapai, tidak. Jadi di tahun 2025 kami tercapai Rp 2,7 triliun walaupun targetnya Rp 2,4 triliun tapi kami bisa lebih,” ujar Budi Gan Gan.
Ia berharap capaian serupa dapat terulang pada tahun ini. Menurutnya, berdasarkan data terkini, hingga periode Januari–April 2026, realisasi investasi di Garut telah mendekati angka Rp 1 triliun.
Untuk mencapai target tersebut, pihaknya terus mengoptimalkan kinerja petugas, baik melalui pelayanan di Mal Pelayanan Publik (MPP) maupun dengan turun langsung ke lapangan guna mendata aktivitas investasi.
“Jadi strateginya kami senantiasa terus, petugas petugas kami terus mencatat baik yang datang ke MPP dan juga turun langsung ke lapangan,” ucapnya.
Budi menjelaskan, salah satu tantangan yang dihadapi yakni banyaknya perusahaan yang berinvestasi di Garut namun statusnya hanya sebagai kantor cabang saja.
Sementara kantor pusatnya berada di kota-kota besar seperti Jakarta san Surabaya.
“Tapi kami senantiasa terus datang ke kantor pusat karena di kantor cabang mereka tidak bisa memberikan informasi terkait data-data laporan investasi,” jelasnya.
Baca Juga:Terharu Lihat Semangat Ihsan, Wagub Jabar Pastikan Sekolahnya LanjutBanjir Wanaraja Terulang, Siapa Bertanggung Jawab?
Budi menyebutkan, bahwa sektor investasi di Kabupaten Garut mencakup berbagai bidang, seperti industri, perdagangan, pariwisata, hingga pertanian.
“Paling banyak itu sektor industri dan perdagangan, yang ketiga pariwisata,” imbuhnya.
Selain itu, investasi juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja.
Budi menambahkan, bahwa ada dua klasifikasi dalam perhitungan penyerapan tenaga kerja di Garut.
“Rumusnya itu ada dua, ada yang menyerap tenaga kerjanya di bawah 5 orang per Rp 1 miliar, ada yang menyerap tenaga kerja diatas 5 orang per Rp 1 miliar. Misalnya untuk industri itu Rp 1 miliar penyerapannya untuk 10 orang tenaga kerja, tapi kalau untuk perdagangan dan pariwisata penyerapanya per Rp 1 miliar itu dibawah 5 orang,” pungkasnya. (Ale)
