RADARGARUT– Ikan sapu-sapu (Loricariidae) dulunya dianggap sebagai “pahlawan” pembersih akuarium. Namun, di perairan bebas Indonesia, citra tersebut berubah total.
Dari sungai-sungai di Jakarta hingga rawa-rawa di Jawa Tengah, kampanye pembasmian ikan ini semakin gencar dilakukan. Fenomena “pembantaian” ikan sapu-sapu bukan tanpa alasan dan ini adalah upaya penyelamatan ekosistem yang sudah di ambang kritis.
Daerah dengan Populasi Sapu-Sapu Terpadat
Beberapa daerah di Indonesia telah menyatakan perang terhadap ikan invasif ini. Perburuan besar-besaran biasanya terkonsentrasi di wilayah seperti Sungai Ciliwung dan Waduk di Jakarta.
Baca Juga:Miris! Dua Pelajar SMA Garut Tertangkap Jual Miras Demi Uang SakuSpider-Man: Brand New Day Tayang 31 Juli 2026
Di sini, ikan sapu-sapu mendominasi hingga hampir 80% populasi air. Warga dan komunitas lingkungan sering mengadakan festival atau lomba tangkap sapu-sapu untuk menekan angka populasi.
Di Sungai Bengawan Solo, nelayan sering mengeluh karena jaring mereka lebih sering berisi ikan sapu-sapu daripada ikan konsumsi seperti nila atau tawes.
Sementara itu di Rawa Pening, Jawa Tengah, selain masalah eceng gondok, ledakan populasi sapu-sapu menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan nelayan tradisional.
Mengapa Ikan Sapu-Sapu Harus “Dibantai”?
Istilah pembantaian mungkin terdengar kejam, namun bagi para ahli ekologi, ini adalah pengendalian spesies invasif. Berikut adalah alasan kuat mengapa populasi ikan ini harus ditekan secara drastis:
A.Merusak rantai makanan lokal
Ikan sapu-sapu adalah pemakan segala yang sangat rakus. Mereka tidak hanya memakan lumut, tetapi juga mengonsumsi telur-telur ikan asli Indonesia dan larva udang. Jika dibiarkan, ikan lokal seperti ikan nilem atau gabus akan punah karena gagal berkembang biak.
B. Memiliki ketahanan tubuh yang “abnormal”.
Ikan ini dikenal sebagai “ikan zombie”. Mereka mampu bertahan hidup di air dengan kadar polusi tinggi dan oksigen rendah, kondisi yang akan membunuh ikan biasa. Tanpa predator alami di sungai Indonesia, populasi mereka meledak tanpa kendali.
C. Kerusakan infrastruktur dan erosi.
Sifat ikan sapu-sapu yang suka membuat lubang di pinggiran sungai untuk bertelur dapat menyebabkan struktur tanah menjadi rapuh. Dalam skala besar, hal ini memicu erosi dinding sungai dan pendangkalan waduk.
