Dana BOS Tak Cukup, Madrasah Negeri di Garut Andalkan Partisipasi Orang Tua

Radar Garut
Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Garut, H. Surya Mulyana
0 Komentar

GARUT – Keterbatasan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) menjadi salah satu alasan utama madrasah mengandalkan partisipasi orang tua melalui komite.

Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Garut, H. Surya Mulyana, menyebutkan bahwa kebutuhan operasional dan pengembangan madrasah jauh lebih besar dibandingkan dana yang diterima.

“Karena kebutuhan itu tidak cukup Rp1.500 ribu per tahun dari BOS,” ujarnya.

Baca Juga:Tanggul Tak Memadai, Cimacan Jadi Langganan BanjirHarga Plastik Melonjak Diduga Akibat Konflik Timur Tengah, Pedagang di Garut Lesu

Ia menjelaskan, banyak kebutuhan penting yang tidak dibiayai pemerintah, mulai dari pembangunan ruang kelas hingga kegiatan penunjang pendidikan.

“Setiap tahun membangun 2 kelas karena tidak ada biaya dari pemerintah, jadi itu untuk seluruhnya kebutuhan siswa,” katanya.

Selain itu, program seperti tahfidz dan ekstrakurikuler juga membutuhkan biaya tambahan yang sepenuhnya berasal dari orang tua.

“Ada juga tahfidz dan ekstrakurikuler yang tidak dibiayai pemerintah, jadi murni dari orang tua,” ungkapnya.

Menurutnya, tanpa adanya partisipasi masyarakat, perkembangan madrasah akan berjalan lambat.

“Nunggu dari pemerintah itu susah, jadi memang partisipasi dari masyarakat ini sangat dibutuhkan apabila sekolahnya ingin maju,” jelasnya.

Ia menambahkan, dukungan tersebut berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan, termasuk penyediaan fasilitas dan tenaga pengajar.

“Kalau tidak ya seadanya tidak ada ekstrakurikuler, mendatangkan guru itu kan harus bayar,” katanya.

Baca Juga:Pemkab Garut Genjot KDMP Untuk Dongkrak Ekonomi Desa, 135 Sudah BerjalanWFH ASN di Garut Dinilai Kurang Efektif untuk Pelayanan Langsung, Begini Tanggapan Ketua Komisi I DPRD

Dengan kondisi tersebut, kontribusi orang tua dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas dan keberlangsungan pendidikan di madrasah.(*)

0 Komentar