​Bukan Sekadar Konser! "Suara Guntur" Padukan Musik, Kepedulian Lingkungan, dan Edukasi di Kaki Gunung Guntur

Radar Garut
Kegiatan yang berlangsung di acara \"Suara Guntur\" Kawasan Edu Wisata Perlebahan Gunung Guntur, Garut. (Rizki Peratami/Radar Garut)
0 Komentar

GARUT — Kawasan Edu Wisata Perlebahan Gunung Guntur, Garut, menjadi saksi lahirnya sebuah gerakan sosial berbasis pemuda yang unik.

Digelar pada 19–20 September 2026, ajang bertajuk “Suara Guntur: The Sound of Wellness” berhasil memikat perhatian pengunjung dengan mengusung perpaduan harmonis antara mindfulness, sustainability, dan pertunjukan seni musik.

​Berawal dari Keresahan Anak Muda untuk Merawat Ikon Garut

​Project Officer Suara Guntur, Zidane Olay, mengungkapkan bahwa pemilihan Gunung Guntur bukan tanpa alasan.

Baca Juga:10 Jam Mengapung Pakai Tabung LPG, ABK Asal Garut Selamat dari Tragedi KM VirgoKDM Dorong Peningkatan Anggaran Infrastruktur di Garut Jalan dan Jembatan Disorot

Sebagai salah satu ikon utama Kabupaten Garut, keberadaan Gunung Guntur harus terus dijaga dan dirawat.

​”Kenapa milih Gunung Guntur? Karena ini yang terbesit di masyarakat ketika ngomongin Garut. Ini ikon dan pusat perhatian, tapi kalau enggak kita jaga, bagaimana Gunung Guntur ini bisa terus-terusan terawat? Makanya kita ada sesi talks ngomongin tentang pangan hingga mitigasi bencana, karena ini berangkat dari kepedulian dan keresahan kita selaku anak muda,” ujar Zidane.

Tontonan yang Menjadi Tuntunan

​Inisiator Sinalaraya sekaligus Konseptor Suara Guntur, Imam Purnama, menjelaskan bahwa acara ini dirancang dengan tiga pilar utama yaitu, mindfulness, sustainability, serta art/music performance.

Melalui pilar-pilar tersebut, festival ini bukan sekadar panggung hiburan biasa, melainkan sebuah tontonan yang dapat menjadi tuntunan.

​Tidak hanya menyuguhkan penampilan musik dari deretan musisi kawakan seperti Panji Sakti, Budi Cilok, Fanny Soegi, hingga Simatakaca, ajang ini juga diisi dengan bedah buku, dialog mitigasi bencana, kamping bersama, konservasi dan penanaman pohon, relaksasi/meditasi, hingga workshop produk lokal.

​”Mudah-mudahan dari social movement ini menghasilkan nilai ekonomi dan sosial, baik untuk teman-teman UMKM maupun untuk Garut itu sendiri. Akhirnya kami ingin mendorong kebijakan publik terkait mitigasi bencana, penanggulangannya, serta concern pada literasi,” jelas Imam. ​Imam juga menambahkan bahwa dorongan agar Suara Guntur menjadi agenda tahunan mengalir deras dari para pengisi acara, seperti Budi Cilok, Kang Pepep, hingga Panji Sakti.

​Konsep segar yang ditawarkan Suara Guntur terbukti memberikan impresi mendalam bagi para pengunjung yang hadir.

Baca Juga:Dua Korban KM Virgo Tiba di Garut untuk DimakamkanAlfamidi Edukasi 200 Keluarga Balita di Garut tentang Pola Asuh dan Kesehatan Gigi

Cepi, salah satu pengunjung yang aktif di kegiatan kerelawanan lingkungan, mengaku tertarik hadir karena perpaduan sesi diskusi edukatif dan penampilan musik dari kawannya di Matakaca.

0 Komentar