Beberapa perusahaan tersebut di antaranya PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum, PT Aneka Tambang, PT Timah, PT Pupuk Indonesia, PT Waskita Karya, serta PT Pos Indonesia.
Rangkaian pengalaman itu membuat perjalanan Hendriyanto berada di persimpangan berbagai lingkungan, mulai dari organisasi alumni mahasiswa, organisasi keagamaan, pengembangan ekonomi, hingga korporasi nasional.
Hendriyanto merupakan putra kelahiran Sumenep, Madura, Jawa Timur. Daerah kelahirannya tersebut mempunyai hubungan panjang dengan sejarah kerajaan dan kebudayaan di Madura.
Baca Juga:Teh Lola Berbakti Rutin Borong Jajanan UMKM, Produk Dibagikan Gratis kepada WargaRutan Garut Tegaskan Zero Pungli, Warga Binaan Diminta Laporkan Jika Ada Permintaan Uang
Sumenep hingga kini menyimpan berbagai jejak sejarah pemerintahan masa lalu, termasuk peninggalan keraton, tradisi sosial, seni, arsitektur, hingga kebudayaan yang tetap menjadi bagian dari identitas daerah.
Dalam lintasan sejarah Sumenep, nama Arya Wiraraja menjadi salah satu tokoh yang paling dikenal.
Arya Wiraraja dalam berbagai catatan sejarah dikaitkan dengan perjalanan pemerintahan awal Sumenep. Namanya juga memiliki hubungan erat dengan Raden Wijaya dalam fase yang kemudian mengantarkan pada berdirinya Kerajaan Majapahit.
Tanggal 31 Oktober 1269 yang dikaitkan dengan Arya Wiraraja kemudian digunakan sebagai tonggak Hari Jadi Kabupaten Sumenep.
Latar sejarah tersebut membuat pemberian gelar dari Karaton Surakarta kepada Hendriyanto mempunyai sisi simbolik tersendiri.
Ia lahir dari daerah yang memiliki akar sejarah keraton di Madura, kemudian memperoleh gelar kehormatan dari salah satu pusat kebudayaan Jawa yang hingga kini masih mempertahankan tradisi keraton.
Penganugerahan tersebut seolah mempertemukan dua latar kebudayaan dalam satu perjalanan, yakni tradisi Sumenep di Madura dan tradisi Karaton Surakarta Hadiningrat.
Baca Juga:KRYD Akhir Pekan, Polres Garut Sita Ratusan Botol Miras dan Puluhan Knalpot BrongPersigar U-15 Lolos ke Final Piala Soeratin Usai Tundukkan Banjar Patroman FA 1-0
Bagi Hendriyanto, gelar Kanjeng Raden Haryo tidak ingin diposisikan hanya sebagai simbol status sosial.
Menurutnya, penghormatan itu justru harus melahirkan tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga etika, kehormatan, budaya, serta pengabdian kepada masyarakat.
Nilai tersebut dinilai sejalan dengan perjalanan Hendriyanto yang selama ini bergerak di berbagai lingkungan organisasi.
Pengalamannya di KAHMI, NU, dan sejumlah institusi nasional menjadi ruang tersendiri untuk membawa semangat pengabdian tersebut dalam kehidupan nyata.
Penganugerahan gelar juga dipandang sebagai momentum untuk mempertemukan nilai tradisional dengan tuntutan kehidupan modern.
Tradisi, dalam konteks tersebut, tidak hanya dimaknai dalam bentuk seremoni atau simbol kebangsawanan, melainkan diterjemahkan melalui sikap, etika bekerja, kepedulian sosial, dan komitmen memberikan manfaat bagi masyarakat.
