RADARGARUT– Wacana pemerintah untuk membatasi penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi berdasarkan data desil dari Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) atau sebelumnya dikenal sebagai Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS/Regsosek) menuai kekhawatiran di kalangan pengemudi ojek online (ojol).
Bagi mereka, BBM bukan sekadar kebutuhan konsumsi rumah tangga, melainkan modal utama untuk mencari nafkah sehari-hari.Salah satu yang merasakan kegelisahan itu adalah Wisnu Kuntjoro, pengemudi ojol mitra Gojek yang sudah mengaspal sejak 2023. Saat ditemui di kawasan Meruya, Jakarta Barat, Wisnu mengaku masih bingung dengan rencana pembatasan tersebut.
“Ya, menurut saya sih itu kayak gimana ya, desil itu kan bisa diatur ya. Saya juga bingung, saya tuh desil 10, kan pemerintah enggak tahu kehidupan kita gimana, ibarat sama aja kayak diatur,” kata Wisnu.
Baca Juga:Harga BBM Pertamina Naik Mulai 1 September 2026: Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex Alami PenyesuaianRamalan Zodiak Bulan September 2026: Daftar Zodiak Ini Bakal Beruntung!
Ia menambahkan, “Nah, kalau misalkan subsidi tergantung desil, kita juga bingung lah, sebagai ojol gitu ya, ngisi bensin sesuai desil, kita juga butuh dari pemerintah subsidi.”
Rencana pembatasan ini muncul sebagai upaya pemerintah agar subsidi energi lebih tepat sasaran. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menyampaikan bahwa kelompok masyarakat desil 9 dan 10 yang merupakan 20 persen penduduk dengan tingkat kesejahteraan tertinggi seharusnya tidak lagi menikmati BBM bersubsidi seperti Pertalite.
Menurut perhitungan sementara, pembatasan bagi desil 10 saja berpotensi menghemat sekitar 10 persen dari anggaran subsidi energi.Desil sendiri merupakan pembagian masyarakat menjadi 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan relatif.
Desil 1 adalah kelompok 10 persen dengan kesejahteraan terendah, sementara desil 10 adalah kelompok 10 persen terkaya. Penentuan desil tidak hanya berdasarkan penghasilan, melainkan kombinasi berbagai indikator seperti kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset, pendidikan, pekerjaan, akses sanitasi, dan lainnya yang terintegrasi dalam DTSEN.
Namun, bagi pekerja informal seperti ojol, skema ini menimbulkan banyak pertanyaan. Pendapatan pengemudi ojol bersifat fluktuatif, bergantung pada jumlah order, kondisi cuaca, dan kemacetan. Sementara pengeluaran untuk BBM bersifat tetap dan relatif besar.
