273 Santri Alami Gejala Keracunan Setelah Konsumsi MBG

(pinterest/radargarut.id)
Amnesti Internasional desak program MBG dihentikan usai maraknya kasus keracunan makanan gratis (pinterest/radargarut.id)
0 Komentar

RADARGARUT– Sebanyak 273 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa 1 September 2026.

Para santri yang mayoritas merupakan pelajar Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) itu kini menjalani perawatan di tiga rumah sakit utama.

Rincian penanganan menunjukkan sekitar 200 santri dirawat di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, 58 santri di RSI Siti Hajar, dan 15 santri di RS Delta Surya. Bupati Sidoarjo Subandi memastikan tidak ada korban meninggal dunia.

Baca Juga:Harga BBM Pertamina Naik Mulai 1 September 2026: Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex Alami PenyesuaianRamalan Zodiak Bulan September 2026: Daftar Zodiak Ini Bakal Beruntung!

Ia menyatakan sebagian santri yang kondisinya sudah membaik mulai dievaluasi untuk dipulangkan.

“Semua sudah terpantau dan ditangani dengan baik. Gejalanya umumnya mual dan diare, tinggal proses pemulihan,” ujar Subandi.

Kronologi kejadian bermula saat paket makanan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah tiba di pondok sekitar pukul 10.00 WIB. Menu yang disajikan meliputi nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel. Para santri mengonsumsi makanan tersebut setelah salat Zuhur, sekitar pukul 13.00 WIB.

Gejala mulai muncul usai salat Ashar. Sejumlah santri mengeluhkan pusing, mual, muntah, sakit perut, dan lemas. Menjelang Maghrib, keluhan menyebar secara massal sehingga pihak pondok dan aparat setempat segera mengevakuasi korban ke sejumlah fasilitas kesehatan.

Puluhan ambulans keluar-masuk kawasan pesantren. Personel TNI juga dikerahkan untuk mengamankan lokasi, sementara wali santri berdatangan menunggu kepastian kondisi anak-anak mereka.

Pengasuh pondok, KH Abdul Wahid Harun, menjelaskan bahwa makanan yang dikonsumsi sepenuhnya berasal dari SPPG, bukan dari dapur internal pesantren. Pihak pondok membantah kabar adanya korban meninggal yang sempat beredar.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo juga mencatat bahwa sebagian besar pasien menunjukkan kondisi stabil setelah mendapat penanganan medis cepat.

Baca Juga:King Kobra Sepanjang Tiga Meter Resahkan Warga Limbangan: Disdamkar Garut Lakukan EvakuasiGaruda Muda Siap Gempur Laos di Kandang Lawan: Jadwal Krusial Kualifikasi Piala Asia U-20 2027

Menanggapi kejadian ini, Bupati Subandi berencana melakukan pemeriksaan langsung ke SPPG Kalitengah bersama dinas terkait, termasuk Dinas Kesehatan dan instansi perizinan.

Pemeriksaan tersebut bertujuan menelusuri penyebab dugaan keracunan, termasuk aspek kebersihan, legalitas, dan prosedur pengolahan makanan. Polisi juga telah mendatangi lokasi SPPG untuk mendalami kasus.

0 Komentar