RADARGARUT – Istilah Londo Ireng kembali ramai diperbincangkan dalam beberapa waktu terakhir. Banyak yang mengartikannya sebagai “pengkhianat” atau “antek penjajah”.
Padahal, secara historis, makna aslinya jauh lebih spesifik dan menarik. Mari kita bedah secara faktual apa itu Londo Ireng dan bagaimana sejarahnya.
Arti Harfiah Londo Ireng
Dalam bahasa Jawa, londo berarti orang Belanda atau orang Eropa, sedangkan ireng berarti hitam. Jadi, Londo Ireng secara harfiah berarti “Belanda hitam”.
Baca Juga:Api Lahap Lahan Pertanian Seluas 2 Hektar Di Cibalong, Sebabkan Kerugian Material BesarHimbauan Waspada Musim Kemarau, Disdamkar Garut Ajak Masyarakat Cegah Karhutla
Istilah ini bukan ditujukan kepada orang Belanda berkulit putih, melainkan kepada prajurit berkulit hitam yang bertugas di bawah bendera kolonial Belanda.
Dalam catatan sejarah kolonial, mereka lebih dikenal sebagai Zwarte Hollanders (Belanda Hitam) atau Black Dutch. Masyarakat Jawa yang melihat mereka mengenakan seragam KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) namun memiliki kulit gelap, kemudian menjuluki mereka Londo Ireng.
Latar Belakang Sejarah Perekrutan
Munculnya Londo Ireng tidak bisa dilepaskan dari kondisi militer Belanda pada awal abad ke-19. Setelah Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro, Belanda kehilangan ribuan tentara Eropa dan puluhan ribu tentara pribumi. Kemerdekaan Belgia dari Belanda pada 1830 juga mengurangi sumber daya manusia militer Belanda.
Pemerintah kolonial membutuhkan pasukan tambahan yang dianggap lebih tahan terhadap iklim tropis dan penyakit, sekaligus tidak mudah bersimpati dengan penduduk lokal. Solusinya mereka merekrut tentara dari Afrika Barat, khususnya dari wilayah Pantai Emas (kini Ghana), terutama sekitar Elmina.
Antara tahun 1831 hingga 1872, diperkirakan lebih dari 3.000 pria Afrika Barat direkrut menjadi anggota KNIL. Sebagian bergabung secara sukarela, sebagian lainnya merupakan bekas budak yang “dibeli” kebebasannya melalui sistem kontrak. Mereka kemudian dikirim ke Hindia Belanda untuk memperkuat pasukan kolonial.
Peran Londo Ireng di Nusantara
Para Londo Ireng ditempatkan di berbagai wilayah dan terlibat dalam sejumlah operasi militer, termasuk Perang Padri di Sumatera Barat dan Perang Aceh yang berlangsung lama.
Dalam struktur KNIL, mereka mendapat perlakuan hampir setara dengan tentara Eropa dengan menerima gaji lebih tinggi dibanding tentara pribumi, memakai sepatu (simbol status Eropa), dan tinggal di tangsi bersama tentara Eropa.
