Ini Alasan Suhu Dingin Di Indonesia Saat Musim Panas

prospek cuaca mingguan bmkg
Prospek cuaca mingguan BMKG 8–15 Desember untuk seluruh wilayah Indonesia. Waspada potensi hujan lebat dan banjir. Foto: Shutterstock – RadarGarut.id
0 Komentar

RADARGARUT– Siapa sangka, di tengah musim kemarau yang identik dengan cuaca panas menyengat, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia justru mengeluhkan suhu yang terasa sangat dingin pada malam hingga pagi hari.

Fenomena ini dikenal sebagai bediding atau mbedhidhing dalam bahasa Jawa, di mana udara terasa menusuk dingin meski siang hari suhu bisa mencapai level yang gerah.

Pada Juni-Juli 2026, laporan warga dari Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebut penurunan suhu malam hari hingga 1-3 derajat Celsius di bawah rata-rata normal.

Baca Juga:Sempat Gagal Dilelang Dua Kali, Kini Tol Getaci Ditangani KemenkeuUpdate Harga Emas 29 Juni 2029: Kian Melemah

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bediding bukanlah anomali langka melainkan fenomena musiman yang khas pada musim kemarau. Puncaknya biasanya terjadi pada Juli hingga Agustus, saat Monsun Australia menguat.

Angin timuran ini membawa massa udara kering dan relatif lebih dingin dari benua Australia yang sedang mengalami musim dingin di belahan selatan Bumi. Massa udara ini mengalir ke wilayah Indonesia bagian selatan, menyebabkan penurunan suhu terutama di malam hari.

Alasan Faktual di Balik Penurunan Suhu

Penyebab utama bediding adalah kombinasi beberapa faktor atmosferik yang saling memperkuat:

  • Minimnya Tutupan Awan: Pada musim kemarau sehingga langit sering cerah tanpa awan tebal. Tanpa lapisan awan yang berfungsi sebagai “selimut” alami, panas yang diserap permukaan Bumi pada siang hari lepas dengan cepat ke atmosfer pada malam hari. Proses radiasi panas ini membuat suhu malam turun drastis, sering kali disertai embun tebal di pagi hari.
  • Pengaruh Monsun Australia. Angin kering dari Australia mendominasi, membawa udara dengan kelembapan rendah. Kelembapan rendah mempercepat pendinginan udara di permukaan. Di wilayah dataran tinggi seperti Dieng, Bromo, atau pegunungan di Jawa, efek ini semakin terasa karena ketinggian yang alami membuat suhu lebih rendah.
  • Siklus Musiman dan Posisi Matahari: Meski bukan penyebab utama, posisi gerak semu matahari di selatan ekuator selama periode ini berkontribusi pada pola cuaca kering. Berbeda dengan mitos Aphelion (titik terjauh Bumi dari Matahari) yang sering disebut-sebut, BMKG menegaskan bahwa pengaruh jarak Bumi-Matahari terlalu kecil (hanya sekitar 3%) untuk menjelaskan penurunan suhu signifikan di Indonesia. Fenomena ini lebih dominan karena dinamika angin dan awan lokal.
0 Komentar