Ketika listrik mati, masyarakat bisa mengambil air dari sumur dengan cara ditimba, kini sumurnya sudah sumur bor, wajib menggunakan pompa air.
Manusia zaman sekarang sangat ketergantungan kepada telephon pintar. Jantung dadget adalah listrik. Wifi beroprasi menggunakan energi listrik. Menanak nasi menggunakan magic com. Memanaskan air menggunakan dispenser, teko listrik. Kompor listrik sudah banyak digunakan di rumah-rumah terutama dengan kelas ekonomi menengah ke atas.
Lalu apa solusinya? Letarikan kembali alam kita. Hijaukan kembali Gunung, Daerah Aliran Sungai (DAS). Gunung yang rimbun dengan pepohonan. Hulu sungai jangan ada alih fungsi lahan. Hutan-hutan harus tetap terjaga. Ketika hutan terjaga maka debit air menjadi normal.
Baca Juga:DPMD Klaim Garut Bebas Desa Tertinggal, Monitoring dan Evaluasi Terus DiperketatTak Dapat Bantuan Rutilahu, Pasangan Lansia Terpaksa Jual Tanah untuk Perbaiki Rumahnya yang Nyaris Roboh
Musim hujan terserap oleh pepohonan. Musim kemarau tidak terjadi kekeringan. Ketika debit air terjaga maka sawah-sawah akan terus teraliri air. Ketersediaan air pun tetap terjaga. Debit air yang baik bisa dijadikan Pembangkit Listrik.
Pada tanggal 17 Juni 2026 penulis mengikuti sebuah kegiatan. Kegiatan tersebut diadakan oleh Ikatan Keluarga Alumni UNPAD. Kegiatan yang mengangkat tema ekonomi hijau tersebut di berlangsung di Kantor Pusat PLN Jakarta.
Penulis mengamati kunci dari ketahanan energi adalah pelestarian lingkungan hidup. Ketika lingkungan hidupnya terjaga maka dimanfaat untuk menghasilkan engergi listrik. Energi terbarukan bersumber dari alam yang ramah lingkungan. Tidak akan ada energi terbarukan jika alamnya rusak. Bahan PLTA, Biofuel, biomassa dihasilkan dari lingkuangan yang baik.
Mari kita rawat lingkungan untuk keberlangsungan manusia masa kini dan masa yang akan datang. Cag. (*)
