Resmi Tembus Ke Angka Rp.18,000 per Dollar AS, Rupiah Catat Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

redenominasi rupiah 1965
Penyederhanaan Rupiah masuk dalam RUU terkait Perubahan Harga Rupiah yang ditargetkan selesai pada 2027. Foto: @wirestock/freepik.com - radargarut.id
0 Komentar

RADARGARUT– Mata uang rupiah kembali mencetak rekor terlemah baru. Pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, rupiah menyentuh level Rp18.028 per dolar AS, melemah 62 poin atau 0,35 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Ini menandai kali pertama rupiah secara resmi menembus batas psikologis Rp18.000 per dolar, level yang selama ini dianggap sebagai “garis merah” bagi stabilitas ekonomi nasional.

Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menyebut pelemahan ini bukanlah kejadian biasa, melainkan hasil kombinasi tekanan yang datang dari berbagai arah.

Baca Juga:Dadan CS Diduga Raup Untung Miliaran Rupiah Per Hari Dari Program MBGJadwal Timnas Indonesia U-19 vs Timor Leste di Piala AFF 2026

“Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik dan menipisnya pasokan valuta asing di dalam negeri,” ujarnya.

Faktor Utama: Kaburnya Investor Asing

Salah satu penyebab paling dominan adalah capital outflow atau arus keluar modal asing yang masif. Investor global sedang meninggalkan pasar negara berkembang (emerging market) dan berbondong-bondong ke aset negara maju yang dianggap lebih aman.

Indeks saham di Amerika Serikat dan Eropa banyak yang mencatat all time high, sementara IHSG terus tertekan.

Menurut Myrdal, perpindahan dana ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Konflik di Timur Tengah yang memanas kembali, terutama ketegangan antara AS dan Iran, membuat investor mencari “safe haven” berupa dolar AS dan obligasi pemerintah negara maju.

Data perdagangan menunjukkan arus keluar dana asing masih signifikan. Pada Jumat, 29 Mei 2026, asing keluar dari pasar saham Indonesia hingga 478,5 juta dolar AS. Meski menurun menjadi 78,13 juta dolar AS pada Selasa 2 Juni 2026, tren keseluruhan tetap negatif.

Tekanan Domestik yang Memperburuk Situasi

Di sisi dalam negeri, pasokan dolar AS semakin menipis karena tingginya permintaan untuk kebutuhan impor, terutama energi dan bahan baku. Penguatan indeks dolar AS secara global juga memberikan tekanan tambahan terhadap seluruh mata uang emerging market.

Beberapa ekonom juga menyoroti faktor sentimen domestik, seperti kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal pemerintah dan sorotan dari lembaga rating internasional.

Baca Juga:Ini 9 Gunung Tertinggi di Garut yang Wajib Dikunjungi PendakiKemensos Buka Ribuan Lowongan PPPK Tenaga Kependidikan Sekolah Rakyat 2026

Rumor-rumor yang beredar di pasar, termasuk isu stress test perbankan jika rupiah tembus Rp18.000, semakin memperburuk persepsi investor.

0 Komentar