Dampak yang Dirasa Masyarakat
Pelemahan rupiah sejauh ini sudah mulai terasa dampaknya:
Inflasi Impor: Harga barang-barang impor seperti elektronik, suku cadang kendaraan, obat-obatan, dan bahan baku industri akan naik. Ini berpotensi mendorong inflasi secara keseluruhan.
Beban BUMN dan Pemerintah: Pertamina dan PLN yang banyak mengimpor bahan bakar akan mengalami peningkatan biaya, yang pada akhirnya bisa membebani subsidi pemerintah.
Baca Juga:Dadan CS Diduga Raup Untung Miliaran Rupiah Per Hari Dari Program MBGJadwal Timnas Indonesia U-19 vs Timor Leste di Piala AFF 2026
Suku Bunga: Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan kembali menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas rupiah, meski hal ini bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi.Investasi: Investor ritel dan korporasi domestik semakin was-was, sementara daya tarik investasi asing menurun.
Di sisi positif, eksportir komoditas seperti sawit, batu bara, dan nikel bisa mendapat keuntungan karena pendapatan dalam dolar AS akan bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.
Langkah Antisipasi yang Dibutuhkan
Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) untuk meredam volatilitas.
Namun, intervensi saja tidak cukup. Diperlukan koordinasi yang kuat antara BI, pemerintah, dan otoritas terkait untuk mengembalikan kepercayaan investor.
Beberapa rekomendasi yang muncul dari para ekonom antara lain:
- Meningkatkan transparansi kebijakan fiskal dan moneter.
- Mendorong hilirisasi industri agar ketergantungan impor berkurang.
- Menjaga disiplin anggaran negara agar defisit tidak membengkak.
- Memperkuat cadangan devisa melalui peningkatan ekspor non-migas dan pariwisata.
Pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp18.000 per dolar AS merupakan ujian berat bagi ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global.
Fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih relatif solid dengan pertumbuhan yang stabil, inflasi yang terkendali, dan cadangan devisa yang cukup. Namun, kepercayaan pasar adalah faktor yang sulit dikendalikan hanya dengan data makro.
Myrdal Gunarto dan para ekonom lainnya meyakini bahwa rupiah masih memiliki ruang untuk rebound jika sentimen global membaik dan kebijakan domestik mampu meredakan kekhawatiran investor.
Baca Juga:Ini 9 Gunung Tertinggi di Garut yang Wajib Dikunjungi PendakiKemensos Buka Ribuan Lowongan PPPK Tenaga Kependidikan Sekolah Rakyat 2026
Namun, selama ketidakpastian geopolitik dan penguatan dolar AS berlanjut, tekanan terhadap rupiah kemungkinan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.(*)
