Setelah Pilpres 2019, Nanik tetap aktif di lingkaran politik pendukung Prabowo. Pada pemerintahan Prabowo-Gibran, ia dipercaya menduduki berbagai posisi strategis, antara lain Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Komisaris Independen Pertamina, dan pada September 2025 diangkat menjadi Wakil Kepala BGN. Pada 2 Juni 2026, ia naik menjadi Kepala BGN.
Tantangan sebagai Kepala BGN yang Baru
Penunjukan Nanik sebagai Kepala BGN datang di tengah evaluasi pemerintah terhadap kinerja lembaga tersebut. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi tanggung jawab utama BGN menghadapi berbagai kritik, mulai dari insiden keracunan makanan hingga tata kelola anggaran.
Sebagai mantan Wakil Kepala BGN, Nanik diharapkan sudah memahami seluk-beluk lembaga ini. Ia dikenal memiliki pendekatan hands-on, sering melakukan sidak langsung ke lapangan untuk memantau kualitas makanan.
Baca Juga:Festival Hasil Pertanian Garut 2026 Digelar, Rayakan Kekayaan Petani LokalIHSG Tiba-tiba Anjlok 4% ke Level 5.946, Pasar Saham Indonesia Kian Tertekan
Namun, publik dan pengamat juga mengingatkan rekam jejak kontroversinya di masa lalu. Beberapa pihak mempertanyakan apakah pengalaman komunikasi dan politiknya cukup untuk menangani program sekompleks MBG yang melibatkan anggaran triliunan rupiah dan jutaan penerima manfaat.
Nanik sendiri menyampaikan permohonan dukungan dan doa dari masyarakat Indonesia untuk dapat menjalankan tugas dengan baik, khususnya dalam memperluas program MBG secara nasional.
Kasus Ratna Sarumpaet di masa lalu menunjukkan betapa cepatnya sebuah informasi bisa menjadi boomerang politik. Kini, Nanik S. Deyang berada di posisi yang jauh lebih strategis.
Keberhasilannya memimpin BGN akan menjadi tolok ukur utama kredibilitas dan kapabilitasnya di mata publik, sekaligus menjadi bagian penting dari legacy pemerintahan Prabowo dalam upaya penurunan stunting dan peningkatan gizi masyarakat.(*)
