RADARGARUT– Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali membunyikan alarm waspada setelah secara resmi menetapkan wabah Ebola di Uganda dan Republik Demokratik Kongo sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia.
Keputusan ini diambil menyusul kekhawatiran atas munculnya dugaan subvarian baru, Bundibugyo Ebola virus (BDBV), yang memicu lonjakan kasus di wilayah tersebut.
Meski status darurat global telah ditetapkan, dunia tidak sedang menghadapi pandemi baru layaknya Covid-19 beberapa tahun lalu. Karakteristik penularan virus Ebola dinilai berbeda dan tidak menyebar dengan cepat melalui udara bebas.
Baca Juga:Hari Kebangkitan Nasional 2026 Bukan Libur: Ini Daftar Tanggal Merah Awal Juni 26 Kode Redeem Free Fire Terbaru 18 Mei 2026, Banyak Hadiah Gratis Menanti Survivors
Bagaimana Risikonya bagi Indonesia?
Menurut epidemiolog dari Griffith University Australia, Dr. Dicky Budiman, PhD, risiko masuknya virus Ebola ke Indonesia saat ini berada pada level rendah hingga menengah. Kendati demikian, ancaman tersebut tetap nyata dan tidak boleh diremehkan.
”Ebola menular melalui kontak erat dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, air liur, atau muntahan. Artinya, transmisinya relatif lebih lambat dan membutuhkan interaksi yang sangat intens,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa tingginya mobilitas internasional, arus pekerja migran, pelaut, serta aktivitas bisnis lintas benua berpotensi menjadi celah masuknya virus ke tanah air jika pengawasan lengah.
Memperketat Pintu Masuk, Bukan Menutup Batas
Menanggapi situasi ini, Indonesia dinilai tidak perlu melakukan penutupan total perbatasan wilayah (lockdown). Langkah yang paling rasional adalah memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk utama internasional, seperti bandara dan pelabuhan laut.
Pemerintah perlu memperkuat strategi surveilans epidemiologi dengan memfokuskan skrining berbasis risiko. Penapisan ketat harus ditujukan kepada pelaku perjalanan yang memiliki riwayat kunjungan ke wilayah terdampak dalam 21 hari terakhir, terutama mereka yang menunjukkan gejala demam akut atau perdarahan.
Selain itu, kesiapan sistem kesehatan domestik harus diuji kembali. Laboratorium diagnostik PCR untuk filovirus harus disiagakan, bersamaan dengan penyediaan ruang isolasi tekanan negatif dan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai di berbagai rumah sakit rujukan.
Pendekatan One Health
Wabah Ebola di Afrika membuktikan bahwa ancaman kesehatan modern tidak lagi berdiri sendiri. Fenomena ini erat kaitannya dengan kerusakan lingkungan, deforestasi, perubahan iklim, serta perdagangan satwa liar.
